2 Nov 2013

Curhatlah hanya kepada ALLAH.

Dalam menyikapi masalah kehidupan, manusia memiliki berbagai tindakan untuk
menyelesaikannya. Mulai dari yang mencurahkan perasaan kepada keluarga, teman, atau bahkan kepada benda-benda mati (contohnya berbicara pada cermin, pada boneka, pada foto), dan tidak sedikit orang yang apabila mempunyai problematika kehidupan selalu mencurhatkannya di dunia maya/internet (contohnya curhat di twitter, facebook, friendster, path, blog, dan masih banyak lagi jejaring sosial lainnya). Masalah-masalah kepada teman, guru, orangtua, atau bahkan masalah rumah tangga pun diceritakannya di sana. Tak peduli apakah itu aib atau bukan, sehingga semua manusia dapat mengetahuinya.

Sesungguhnya semua masalah itu tidak
sepantasnya disebar dan diceritakan kepada setiap orang. Cukuplah semua perkara kehidupan yang dihadapi seorang muslim hanya dicurahkan kepada ALLAH ‘Azza wa Jalla. Seorang muslim tidaklah pantas menampakkan kelemahannya di hadapan makhluk yang sama-sama lemah. Sesungguhnya apabila seseorang menampakkan dan mengadukan kesedihan serta kesulitan kepada manusia, maka hal itu tidak meringankan kesedihan terdebut.

Sebagai umat Muslim, seharusnya kita mencontoh Nabi Ya’qub ‘alaihissalam ketika menghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf. 
sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an: 
"Sesungguhnya hanyalah kepada ALLAH aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku."
[QS. Yusuf: 86]

Ketika seseorang mengadukan kesedihan itu kepada ALLAH, itulah hal yang akan bermanfaat baginya. ALLAH Ta’ala telah menjanjikan hal itu
dalam sejumlah firman-Nya.
ALLAH berfirman:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku."
[QS. Al Baqarah: 186]

ALLAH berfirman:
"Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya."
[QS. Qaf: 16]

Jika ALLAH saja sedemikian dekatnya, maka tidak
perlu lagi mencari tempat-tempat curhat dan
mengeluhkan problem kepada selain-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:
"Bukankah ALLAH itu cukup untuk hamba-Nya." [QS. Az Zumar: 36]

Rasulullah sendiri mengajarkan kepada
keponakannya yang masih kecil agar hanya
meminta dan memohon kepada ALLAH, hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits.
Rasulullah bersabda:
"Jika kamu meminta, mintalah kepada ALLAH. Jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada ALLAH"
{HR. At Tirmidzi./hasan shahih}

Sungguh, Rasulullah menanamkan akidah yang benar kepada umatnya sejak kecil agar terpatri kuat di sanubari orang tersebut. inilah yang
seharusnya diteladani oleh para Orang Tua dalam mendidik Putra-Putri mereka.

Sebagai umat Muslim, seharusnya kita menyadari bahwa sumber ketenangan itu hanya dari ALLAH. 
Tiada yang pantas membuat seorang Muslim resah hanya dikarenakan hal-hal duniawi.
Jadi, ketika kita mempunyai hajat atau sedang ditimpa permasalahan, cukuplah curhat kepada ALLAH, karena itulah yang utama, bermodalkan sabar dan yakin sebagai syaratnya, dengan begitu Dia akan penuhi segala keperluan kita. 
Mulai dari rezeki, ilmu, jodoh, keturunan, kebahagiaan, kesehatan dan yang lainnya. Semuanya mintalah kepada ALLAH. pasti akan dikabulkan. 
ALLAH Maha Tahu kapan waktu yang terbaik untuk memberikan kepada kita apa yang kita inginkan. 
Janji ALLAH pasti dipenuhi. 
Oleh karena itu, Curhatlah hanya kepada ALLAH.

MUHASABAH DIRI

31 Okt 2013

SENYUMAN DAN TANGISAN

~Jodohku~

bismillahhirrahmanirrahim
assalamualaikum..,

Apa khabarmu hari ini wahai jodohku.? Semoga dirimu baik-baik saja. Semoga dirimu lebih meletakkan Allah dan rasul di hatimu juga ibu bapamu sebelumku.
wahai jodohku...,
Ku tidak tahu dimana dirimu berada kini,tapi kudapat rasakan setiap doa yang engkau titipkan buatku dlam istikharahmu. Setiap rindu yang kau titipkan pada Allah untukku.

wahai jodohku...,
Andainya saat ini engkau sedang terluka dan kecewa.., ingatlah Allah sentiasa disisimu. Bangkitlah kembali menyulam hatimu ynag retak berkecai. Kuatkan dirimu dengan ibadahmu kpd Allah. Jangan sesekali engkau merasakan kehilangan kerana Allah telah mencipakan diriku untukmu.
wahai jodohku...,
Walaupun kita tak pernah bersua, tak pernah berbicara bahkan tidak pernah tahu dimana diri masing-masing berada, tapi yakinlah satu saat nanti Allah akan pertemukan kita dalam suatu detik ynag terindah. Yakinlah Allah akan menyemai cinta kita melalui kasih saynagNYA pada kita.
wahai jodohku..,
Andainya saat ini cintamu tidak diterima oleh gadis idamanmu,bersabarlah.., kerana aku sedang menyiapkan diriku untuk menjadi zaujah yang terbaik buatmu. Aku akan sentiasa mencintaimu dan menantikan dirimu. Janganlah engkau tenggelam dengan perasaanmu kerana ada aku disini menantikan dirimu.
wahai jodohku..,
Sungguhku katakan aku sangat rindu pada dirimu saat ini. Aku tidak kuat untuk melawan permainan hatiku yang sering bersangka-sangka. Hanya isthikarah menjadi landasan untuk ku berinteraksi bersamamu. Semoga engkau mendengar setiap bait kata rindu dan sayang yang ku bisikkan pd Allah. Semoga engkau juga begitu. Semoga kita bertemu dalam istikharah cinta kita.
wahai jodohku..,
Jangan engkau lupa untuk mempersiapkan dirimu mendidik ku menjadi wanita syurga kelak. Kerana diriku masih banyak kekurangan sesungguhnya aku hanya wanita lemah yang perlukan bimbinganmu untuk aku lebih kuat mencintai Allah. Kuharap engkau dapat menerima segala kekuranganku.Aku hanya wanita biasa yang sedang berusaha untuk menjadi wanita solehah. Aku perlukan dirimu untuk mengelakkan ku dari fitnah dunia.
wahai jodohku...,
Tak kira dimana pun dirimu berada kini, semoga kita cepat dipertemukan.Semoga segala urusan kita dipermudahkan. Jangan engkau kecewa andainya saatnya belum tiba kini.., Bersabarlah dan teruskan munajatmu kepada Allah. Jangan engkau berputus asa dengan nikmat dan rahmat Allah. Teruslah berjalan di jalanNYA.Teruslah mencintaiNYA. Kerana aku akan tetap menanti dirimu disini dengan penuh kesabaran dan doa untukmu. Janganlah engkau lupakan aku dlm setiap doamu. Kerana aku sentiasa menantikan doa darimu.
wahai jodohku...,
Akhir kata.., aku sangat merindui dirimu.semoga saat kite dipertemukan semakin hampir dan dipermudahkan. Kutitipkan doa juga rasa rinduku pada Allah.., dengan harapan Allah akan titipkan rindu dan cinta ini buatmu.., Jangan merasa sepi wahai jodohku..., ada Allah disisimu.. Juga ada aku yang mencintaimu. Segeralah engkau mempersiapkan dirimu dan mencariku di dunia yang nyata.

30 Okt 2013

Keberkahan Membawa Ketenteraman Hati



Ada Seorang ibu sebagai seorang pengajar yang juga menggeluti usaha rumahan mainan anak merupakan wujud kecintaannya di dunia pendidikan itulah sebabnya bagi beliau senang sekali hadir di Rumah Amalia. Beliau bertutur sempat menghadapi kendala. Usahanya diawali dengan penjualan doorway to door, meskipun energi dan biaya yang dikeluarkan terbilang cukup besar namun pemasukannya boleh dibilang tidak ada. Satu sampai tiga buah aja barangnya laku, “sudah alhamdulillah” begitu kata beliau. Keadaan seperti itu cukup lama, hal itu tak membuatnya patah semangat. sampai mencoba mempromosikan lewat internet namun hasilnya belum cukup memuaskan.
Ditengah keheningan malam, ditengah rasa perih dihati, beban hidup seolah tiada henti, memohon pada Allah agar diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalani hidup. Teringat hadist Nabi, ‘Obatilah orang yang sakit dengan shodaqoh, bentengilah harta kalian dengan zakat dan tolaklah bencana dengan berdoa (HR. Baihaqi), yang mendorongnya agar lebih peduli dan empati pada sesama. Sampailah keinginannya bershodaqoh untuk Rumah Amalia terwujud. Kehadirannya merupakan kebahagiaan tersendiri bagi beliau bersama keluarga karena kecintaannya di dunia pendidikan ada rasa haru dan menangis melihat kegembiraan anak-anak Rumah Amalia.
Benar saja, sekarang ini beliau mulai kebanjiran order, alat peragaan buatnya sering dipercaya untuk pemasok di sekolah-sekolah. Usahanya yang dirintis hanya dengan modal kecil, kini meroket tajam. Bahkan karyawan yang membantunya terus bertambah. “Alhamdulillah Mas Agus, saya senang, rizki yang saya peroleh membawa keberkahan bukan hanya buat kami sekeluarga namun juga tetangga disekitar juga ikut merasakan hasilnya.” tutur beliau penuh berlinangan atmosphere mata bersama suami dan anak-anaknya. “Bahkan sekarang ini kami sekeluarga lebih mendekatkan diri pada Allah, sehat dan keberkahan membawa ketenteram hati.” Subhanallah.

29 Okt 2013

Sebuah cerita,Air Mata Yang Mengalir


Disaat masalah menghampiri dalam hidup, kita simpan dan membesar, kita menjadi butuh teman untuk membantu kita, untuk mendengarkan, menghibur, mendoakan dan juga mendorong agar kita menjadi kuat. Paling tidak, hadir sebagai teman dalam kesendirian. Itulah yang terjadi di Rumah Amalia. Rumah harapan bagi anak-anak Amalia. Rumah Amalia hadir menjadi ‘tempat berbagi’ berbagi dalam suka dan duka, berbagi kebahagiaan dan penderitaan bagi siapapun yang telah mengalirkan atmosphere mata. Ahad pagi di Rumah Amalia ditengah ramai anak-anak Amalia dengan aktifitasnya, kami kedatangan seorang tamu, seorang gadis cantik yang berkenan ‘curhat’, telah lama menyimpannya sampai hidupnya menjadi tertekan dia bertutur. Dirinya dibesarkan oleh sang nenek, ayah dan ibu sudah lama meninggal dunia. Dari kecil neneknye selalu menanamkan nilai-nilai agama, belajar mengaji, sholat dan puasa. Disekolah dirinya terbilang cerdas, dari SD sampai SMA selalu renking 3 besar disekolahnya. Sekalipun tidak bisa melanjutkan keperguruan tinggi, dia bersyukur selepas lulus SMA bisa melanjutkan dengan kursus akutansi sampai bisa bekerja di Jakarta.
Kebahagiaan tiada tara karena bekerja di kantor yang tinggi menjulang merupakan impiannya sewaktu kecil. Sampai kemudian ada seorang pria ganteng, teman sekantornya yang menyatakan cinta pada dirinya. ‘Seumur hidup saya baru kali itu Mas Agus ditaksir ama cowok,’ ucapnya tersipu malu. Namun karena kehidupan kota Jakarta yang menjauhkan dirinya iman, terjatuh dalam pergaulan tanpa norma. Dirinya terjerumus pergaulan bebas, dia tidak mampu menolak rayuan sang cowok. Semua itu baru disadarinya setelah merasakan tubuhnya yang terasa berbeda. Tubuhnya terasa lemas. Hilang sudah impian dan harapan. Hampir saja mengakhiri hidupnya. ‘Menangis saya seharian Mas Agus,’ ucapnya. Matanya memerah, atmosphere matanya mengalir begitu saja tanpa disadarinya. Cowok itu menghilang tanpa jejak, tidak betanggungjawab atas perbuatannya. Ditengah kegalauan dan penuh linangan atmosphere mata, dirinya memutar radio, ‘Saat saya memutar radio, saya mendengarkan Radio Jakarta. Malam itu saya mendengar Mas Agus menjelaskan bahwa ‘Ketaqwaan kepada Allah menyelamatkan Hidup Kita’ Rasanya penjelasan itu menenteramkan hati saya Mas Agus.’ jelasnya. Maka hari Ahad pagi dirinya memutuskan ke Rumah Amalia.
Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa sekotor apapun perbuatan kita bila kita bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita karena yakinlah Allah senantiasa memiliki rencana yang indah untuk hidup kita agar kita semakin mendekatkan diri padaNya. Mendengar apa yang saya jelaskan padanya, terdengar isak dan tangisnya. ‘Subhanallah, Maha Suci Allah, Semoga Allah berkenan mengampuni saya ya Mas,’ ucapnya lirih. Sampai beberapa hari kemudian saya mendapatkan email darinya yang mengabarkan sudah memutuskan pulang kampung untuk melahirkan dan membesarkan sang buah hatinya bersama sang nenek, neneknya menyambutnya dengan tangan terbuka. ‘Semua perbuatan yang saya lakukan menyadarkan apa yang saya lakukan salah karena jauh dari Allah, atmosphere mata saya yang mengalir adalah atmosphere mata kebahagiaan memohon ampun kepada Allah. Terima kasih Mas Agus atas dukungan dan doanya.’ Tuturnya dipenghujung email.  Tanpa terasa atmosphere mata menetes membaca emailnya. Merasakan betapa berat beban yang ditanggungnya. ‘Ya Allah, Ampunilah dosa-dosa kami.’

Harapan Di Tengah Keputusasaan

Ada seorang pemuda yang menderita penyakit merasa nyeri pada bagian kaki. Kakinya sering bengkak. Awalnya ketika dibawa ke dokter namun dokter menyebutnya sebagai bengkak biasa tetapi makin lama bukannya sembuh malah bertambah nyeri dan semakin sering. Akhir mendatangi dokter ahli, setelah pemeriksaan sakit yang dideritanya adalah ‘nacreous’. Mendengar nama penyakit itu membuat dirinya terkaget dan takut, Menurut dokter penyakit ini membahayakan ginjalnya bila dibiarkan terus, kalau sudah merusak ginjal maka keadaan akan semakin parah dan harapan sembuh akan tipis.
Tentu saja hal itu membuatnya terpukul dengan kenyataan itu. Dia teringat akan kedua orang tuanya, keinginan untuk membahagiakan menjadi terpupus selama-lamanya. Hati dalam kegelisahan, diselimuti oleh keputusasaan. Kebahagiaan dan tawa menjadi sirna dalam kabut yang menyelimuti hatinya. Beberapa beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Air matanya mengalir dipipi, tak kuas menahan isak tangis. Hanya berharap dan memohon pertolonganNya. ‘Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hambaMu ini..’ ucapnya lirih.
 Dia kemudian tanpa menyia-nyiakan waktu berbagi untuk anak-anak Rumah Amalia. Kehadirannya nampak secercah harapan ditengah keputusasaannya, memohon kepada Allah membawa ketenangan dalam hatinya. Dan alhamdulillah penyakit dikakinya sedikit demi sedikit menghilang dan beberapa hari kemudian dokter memberitahukan bahwa memiliki harapan untuk sembuh. Sampai akhirnya sembuh dan dalam keadaan sehat wal afiat. Allah memberikan kesembuhan baginya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Bidadari Yang Bermata Jeli Laksana Mutiara Yang Tersimpan, Perbincangan Rasulullah Dengan Ummu Salamah Radhiallahu Anhu Tentang Bidadari Syurga Dan Wanita Dunia Adalah Lebih Utama Dari Bidadari Yang Bermata Jeli

Allah Subhana wa Ta’ala Berfirman :
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ يَلْبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَقَابِلِينَ كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah. Dan kami jodohkan mereka dengan bidadari bermata jeli.” [Qs. Ad-Dukhan: 51-54]
وَحُورٌ عِينٌ كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
”Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan.” [Qs. Al-Waqi’ah: 22 – 23]
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئاً بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): `Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan`, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” [Qs. At-Thur: 17-20]
Lafadz “bihurin `in” (bidadari bermata jeli) dalam ayat-ayat di atas diartikan sebagai wanita yang mempunyai bola mata yang sangat indah, cemerlang, dan mempesona, yang sanggup menggetarkan hati siapapun yang memandangnya.Rasulullah Saw. telah menjelaskan dengan gamblang bidadari surga ketika beliau berdialog dengan Ummu Salamah[1] radhiyallahu ‘anha (Ra), istri baginda Nabi Saw.
Diriwayatkan oleh Imam Attabraniy dalam sebuah hadits dari Ummu Salamah ra, bahwa ia (Ummu Salamah Ra) berkata : “Ya Rasulallah, jelaskanlah padaku tentang firman Allah ‘yang bermata jeli.’”
Rasulullah Saw. menjawab: “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burungnazar.”
Ummu Salamah Ra berkata lagi: “Jelaskanlah padaku ya Rasulallah tentang firmanNya: ‘laksana mutiara yang tersimpan’ (QS. Al-Waqi’ah: 23).”
Rasulullah SAW menjawab: “kebeningannya bak kebeningan mutiara yang tersimpan dalam cangkangnya di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh oleh tangan manusia.”
Ummu Salamah Ra kembali bertanya: “Jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah: ‘di dalam syurga itu ada bidadari yangbaik-baik lagi cantik-cantik’ (QS. Ar-Rahman: 70)”
Beliau menjawab: “Akhlaknya baik dan parasnya cantik jelita.”
Kembali Ummu Salamah Ra bertanya: “Jelaskan padaku tentang firman Allah: ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik’ (QS. Ash-Shaffat: 49)”
Beliau menjawab: “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada pada bagian dalam telur dan terlindungi oleh kulit bagian luarnya.”
Ummu Salamah Ra bertanya lagi: “Ya Rasulallah, jelaskan padaku tentang firman Allah: ‘penuh cinta lagi sebayaumurnya’ (QS. Al-Waqi’ah : 37)”
Beliau menjawab: “Mereka-mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban, lalu Allah menjadikan mereka wanita-wanita muda (gadis) yang umurnya sebaya (tidak pernah tua ditelan usia).”
Ummu Salamah Ra bertanya lagi: “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli.”
Beliau menjawab: “Wanita-wanita dunia lebih utama (lebih baik) dari bidadari, seperti kelebihan yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Ummu Salamah Ra bertanya: “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari di surga ya Rasulallah?”
Beliau menjawab: “Karena shalat mereka, puasa mereka dilakukan semata-mata untuk Allah Swt. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, pakaian mereka dari kain sutera yang sangat halus, kulit mereka putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kemuning emas, sanggulnya terbuat dari mutiara dan sisirnya terbuat dari emas murni. Mereka (wanita-wanita dunia) berkata: “(di surga) Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami senantiasa mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami rido dan tidak pernah bersungut (dengki/iri/ghibah) sama sekali, berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
Ummu Salamah Ra meneruskan pertanyaannya: “Salah seorang wanita diantara kami ada yang telah menikah dua, tiga atau empat laki-laki dan ia meninggal dunia. Dia masuk surga kemudian mereka (Laki-laki yang pernah menjadisuaminya) juga masuk surga, siapakah diantara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, dan dia pun memilih siapa di antara mereka yang paling baik akhlaknya, lalu dia berdoa ‘Ya Rabb, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya kepadaku tatkala aku hidup bersamanya di dunia, maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan di dunia dan diakhirat.” (HR. Atthabrany)

Akibat Perbuatan Maksiat II Dua

“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi)
Tahukah Anda sekalian apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 akibat yang akan menimpa diri kita. Karena itu, renungkahlah, wahai orang-orang yang berakal!
Maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatan dalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”
Maksiat akan menghalangi Rezeki
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)
Karena itu, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rezeki kita. Jika saat ini kita merasakan betapa sulitnya mendapatkan rezeki Allah, maka tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.
Maksiat membuat kita berjarak dengan Allah.
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”
Maksiat membuat jarak dengan orang-orang baik.
Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”
Maksiat membuat sulit semua urusan kita
Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempesulit segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”
Jika kita gemar bermaksiat, semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta benci pada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. Makanan yang kita makan tidak suka kita makan. Orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.
Maksiat melemahkan hati dan badan
Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.
Lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!
Maksiat menghalangi kita untuk taat
Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.
Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan
Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya.
Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.
Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.
Maksiat menumbuhkan maksiat lain
Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.
Karena itu, jangan sekali-kali mencoba berbuat maksiat. Kita akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!
Maksiat mematikan bisikan hati nurani
Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat. Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.
Hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali
Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah swt.
Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah diazab Allah swt.
Homoseksual adalah maksiat warisan umat nabi Luth a.s. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib a.s. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan maksiat warisan kaum Hud a.s.
Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku maksiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.” Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.
Maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadinaan
Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj:18). Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Karena, kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….” (Al-Faathir:10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”
Maksiat merusak akal kita
Tidak mungkin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sehat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!
Maksiat menutup hati.
Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin:14). Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.
Pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.
Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya. Karena itu, tinggalkanlah semua itu!
Maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.
Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus.
Allah swt. berfirman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (Al-Mukmin: 7-9)
Maksiat melenyapkan rasa malu.
Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilangkah seluruh kebaikan dari diri kita. Rasulullah bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
Maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.
Jika kita melakukan maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!
Maksiat memalingkan perhatian Allah atas diri kita
Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)
Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab
Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?
Maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.
Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!
Semoga Allah menjaga kita semua dari perbuatan maksiat. Amin.

28 Okt 2013

Maksiat Adalah Sumber Utama dari Segala Penyakit

Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri.”
(QS. As-Syuura : 30)
Saat ini banyak sekali macam-macam penyakit yang ada di masyarakat dan di antaranya bahkan sangat sulit disembuhkan. Nama-nama penyakitnya pun aneh dan beragam. Ada penyakit flu babi, flu burung, dll. Ada biang penyakit dan wabah yang telah dilalaikan oleh manusia secara umum, dan kebanyakan kaum muslimin secara khusus. Biang penyakit tersebut adalah maksiat.
Telah banyak dalil, baik dari al-Qur’an dan As-Sunnah, serta dari berbagai fakta di alam semesta, yang menunjukkan bahwa kemaksiatan adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai petaka dan penyakit. Allah SWT. berfirman: “Dan sungguh-sungguh Kami akan menimpakan adzab kecil (di dunia) sebelum adzab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As-Sajdah: 21)
Ibnu Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan adzab dekat (kecil) ialah berbagai musibah yang terjadi di dunia, penyakit dan petaka yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya, agar mereka bertaubat.”Dalam ayat lain, Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kejelekan, niscaya ia akan diberi balasan dengannya.” (QS. An-Nisa’ : 123)
Qatadah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa tidaklah ada seorang yang tergores oleh ranting, atau terkilir kakinya atau terpelintir uratnya, melainkan akibat dari dosa yang ia perbuat.”
Pada suatu hari ada seorang yang bertanya kepada sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas di hadapan sahabat Usamah bin Zaid tentang penyakit (wabah) tha’un, maka sahabat Usamah bin Zaid mengabarkan bahwa Rasulullah SAW. pernah menjelaskan tentang hal itu dengan sabdanya:“Sesungguhnya penyakit ini adalah kotoran yang dengannya Allah mengadzab sebagian umat sebelum kalian, kemudian tersisa di bumi, kadangkala ia hilang dan kadangkala ia datang kembali.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)
Tidak mengherankan bila Nabi SAW. menjelaskan bahwa salah satu hikmah dari setiap musibah yang menimpa seorang muslim ialah untuk menghapuskan kesalahan dan dosanya. “Tidaklah seorang muslim ditimpa rasa letih, rasa sakit, gundah pikiran, rasa duka, gangguan dan kebingungan sampai-sampai duri yang menusuknya, melainkan akan Allah hapuskan sebagian dari kesalahannya.”(HR. Muttafaqun ‘alaih)
Ibnu Qayim al-Jauziyah mengatakan, “Perbuatan maksiat adalah faktor terbesar yang menghapus barakah usia, rezeki, ilmu, dan amal. Setiap waktu, harta, fisik, kedudukan, ilmu, dan amal yang Anda gunakan untuk maksiat kepada-Nya, maka sebenarnya semua bukan milik Anda. Usia, harta, kekuatan, kedudukan, ilmu, dan amal yang merupakan milik Anda sebenarnya adalah yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah.”
Zina Biang Penyakit Baru
Di antara kemaksiatan yang sering menjadi biang munculnya berbagai penyakit baru ialah perbuatan zina, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Tidaklah perbuatan zina merajalela di suatu kaum, hingga mereka berterang-terangan ketika melakukannya, melainkan akan ada pada mereka berbagai wabah (tha’un) dan penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelum mereka.” Dan pada sebagian jalur hadits ini dinyatakan: “Tidaklah perbuatan zina merajalela di suatu kaum, melainkan akan banyak kematian di tengah-tengah mereka.” (HR. Al-Hakim, At-Thabrani dan Al-Baihaqi).
Ummul mukminin Maimunah RA. mengisahkan bahwa ia pernah mendengar Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Umatku senantiasa dalam keadaan baik, selama anak hasil perzinaan belum merajalela di tengah-tengah mereka. Bila anak hasil zina telah merajalela di tengah-tengah mereka, maka tidak lama lagi Allah akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka semua.” (HR. Imam Ahmad)
Saudaraku, mungkin Anda bertanya, bagaimana halnya dengan negeri kita yang semua orang telah mengetahui bahwa prostitusi telah merajalela. Ketahuilah saudaraku! Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) memperkirakan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sampai Maret 2008 mencapai 200 ribu. Hingga saat ini, jumlah penderita HIV/AIDS pada usia produktif di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2011 adalah 11,6 persen dari jumlah seluruh penduduk di Indonesia.
Fenomena penderita HIV/AIDS ini kondisinya bagaikan “gunung es”, yang terlihat di permukaan atau yang telah ditemukan jauh lebih kecil dibandingkan kondisi sebenarnya. Karena sebenarnya, penderita yang telah ditemukan atau melaporkan dirinya mengidap penyakit itu hanya lima persen dari jumlah sebenarnya. Jumlah pengidap penyakit ini yang belum teridentifikasi atau sengaja menutup diri, jumlahnya lebih banyak dari yang telah melapor atau berhasil didata oleh pihak terkait.
Tidak ada yang seorangpun yang meragukan bahwa beberapa faktor penyebaran penyakit ini, sebagian besar disebabkan karena penggunaan jarum suntik narkoba, hubungan seksual haram, terinfeksi orangtua yang mengidap HIV. Meski ada juga yang terinfeksi HIV bukan karena hal tersebut, namun mayoritas karena faktor di atas.
Semua Halal, Kecuali Mengancam Keselamatan
Semua yang ada di bumi ini halal untuk Anda makan dan gunakan, kecuali yang mengancam keselamatan hidup Anda, baik di dunia ataupun di akhirat. Karenanya, di antara amal kemaksiatan yang banyak mendatangkan penyakit ialah dikarenakan mengkonsumsi makanan atau minuman haram.
Ibnu Qoyim al-Jauziyah berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas umat ini berbagai hal-hal yang diharamkan, dikarenakan hal-hal itu buruk (berbahaya). Dan tujuan pengharaman itu guna melindungi dan mencegah mereka agar tidak mengkonsumsi hal yang berbahaya tersebut.”
Ibnu Taimiyah menjelaskan salah satu efek buruk dari memakan babi, dengan berkata: “Daging babi biang dari segala perangai buruk, karena babi adalah hewan paling rakus dan tidak pernah berpantangan terhadap makanan apapun.”
Ibnu Sirin lebih terperinci menjelaskan tentang salah satu perangai babi dengan berkata, “Tidaklah ada binatang yang melakukan perilaku kaum Nabi Luth selain babi dan keledai.”
Bila demikian adanya, maka tidak perlu heran bila orang yang biasa memakan daging babi atau keledai, lambat laun dijangkiti oleh perangai babi yang suka sesama jenis. Na’uzubillah min dzalik.
Seakan tidak mau ketinggalan dari gurunya, Ibnul Qoyim al-Jauziyah juga menjelaskan salah satu efek samping dari mengkonsumsi makanan haram, di antaranya daging binatang buas yang bertaring dan burung yang bercakar kuat. Beliau berkata, “Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW. mengharamkan setiap binatang buas yang bertaring tajam dan burung yang berkuku kuat. Larangan beliau ini disebabkan karena karakter hewan jenis ini yang senantiasa mengganggu, menyerang dan bengis. Padahal setiap orang akan terpengaruh oleh jenis makanan yang ia konsumsi. Dengan demikian, bila Anda mengkonsumsi daging hewan jenis ini, niscaya karakter Anda lambat laun akan terpengaruh sehingga Anda akan terbiasa berperilaku bak hewan buas, hobi mengganggu dan tidak heran bila Rasulullah mengharamkan atas umatnya memakan daging hewan jenis ini.” 
Dengan penjelasan singkat di atas, kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa perbuatan maksiat adalah salah satu penyebab datangnya berbagai penyakit, baik sebagai balasan atau sebagai teguran kepada pelakunya agar ia kembali kepada jalan yang benar. Sebaik-baiknya manusia, pasti tidak pernah luput dari kesalahan, oleh karena itu kita harus senantiasa istighfar dan bertaubat dari kemaksiatan yang kita lakukan. Semoga tulisan ini bisa menyadarkan dan memberi hidayah kepada kita semua. Amin ya rabbal alamin.
 Maksiat Adalah Sumber Utama dari Segala Penyakit

Sebuah Kisah Cinta Yang Belum Pernah Diungkap

Sebuah Kisah Cinta Yang Belum Pernah Diungkap

Yagmur Dursun*

“Ada sebuah perayaan, tetapi itu bukan pesta pernikahannya. Ia mengenakan gaun putih, tetapi itu bukan gaun pengantinnya. Banyak orang datang ke pesta itu, tetapi mereka datang untuk mengutukinya dan melemparkan batu padanya. Tak ada musik yang dimainkan dan tidak ada lagu-lagu sukacita yang dinyanyikan; hanya teriakan Allah-u-Akbar yang memenuhi udara.”
Sejak peristiwa 11 September, kami masih terus mendengar bahwa Islam adalah sebuah agama damai. Tetapi aksi-aksi dari ratusan ribu orang-orang Muslim fanatik memberikan alasan yang tepat untuk kami melihat agama ini secara berbeda. Jika kita mengalihkan mata kita dari headline berita, maka ada juga kisah-kisah yang belum diceritakan, tetapi kisah-kisah itu pun memperlihatkan pada kita sisi gelap dari Islam.
Dalam kisah tragis berikut ini, anda akan bertemu dengan Yagmur, yang menceritakan bagaimana saudara perempuannya jatuh cinta dengan seorang pria muda, dimana ayah pria itu melarangnya untuk menikahi wanita ini. Yagmur masih ingat betapa bahagia wajah kedua orang muda ini dan betapa mereka saling mencintai. Dalam usaha untuk mendapatkan restu dari orangtuanya, saudara perempuan Yagmur dan pacarnya memberitahukan bahwa ia sudah hamil. Apa yang kemudian berlangsung dalam kisah nyata mengenai hati yang hancur dan penganiayaan ini, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan oleh mereka yang hidup di negara Barat. Setelah mendengar kehamilan anak perempuannya, ayah Yagmur dengan geram membawa anak perempuannya ke para pemimpin agama. Karena telah terjadi perzinahan, maka saudara perempuan Yagmur akan dihukum mati dengan cara dilempari dengan batu. Ini adalah sebuah kisah cinta yang tragis, dengan brutalitas yang tak terbayangkan. Setting dari hikayat ini mungkin akan mengejutkan banyak orang. Disamping itu, kisah ini terjadi bukan di Saudi Arabia, Iran atau Afghanistan, melainkan di Turki – yang banyak orang pada masa kini percaya bahwa negara ini akan segera menjadi anggota permanen dari Masyarakat Ekonomi Eropa.
Kisah Cinta Yang Belum Pernah Diceritakan
Nama saya Yagmur (artinya “hujan”). Saya dilahirkan di pedalaman Turki, di sebuah desa. Pada umumnya, wanita-wanita Turki menikmati banyak kebebasan yang bagi saudari-saudari Arab kami merupakan hal yang tidak pernah mereka pikirkan. Tetapi pedalaman Turki adalah cerita yang berbeda. Pembunuhan karena kehormatan terjadi setiap hari. Biasanya wanita mengerjakan urusan-urusan rumah tangga meskipun mereka masih diperbolehkan bekerja di luar. Tetapi sebenarnya wanita bekerja lebih keras dari pria sebab umumnya pria tidak suka memaksa diri mereka. Di sini, wanita seperti sapi atau budak. Jika suamimu menyuruhmu melakukan sesuatu maka engkau harus mentaatinya.
Ibu saya adalah seorang wanita yang agak berpendidikan. Ia mengajariku di rumah dan bahkan mengijinkanku belajar di sekolah. Hobby saya adalah membaca buku. Melalui buku-buku ini, saya mempelajari bahasa-bahasa yang berbeda dan memperoleh banyak pengetahuan.
Saya seorang gadis yang berdisiplin dan taat, berbeda dengan saudara perempuanku yang agak angkuh. Ketika ia berusia delapan belas tahun, ia jatuh cinta pada seorang pria muda. Keduanya saling mencintai, tetapi pria itu sudah dijodohkan dengan gadis lain, dan ini adalah keputusan orangtuanya. Pacaran merupakan hal yang dilarang dalam Islam; pernikahan terjadi karena dijodohkan dan seringkali orang-orang muda hanya bertemu pasangannya pada hari pernikahan.
Tetapi kakak perempuanku memberontak. Ia “berpacaran” dengan pria muda itu. Setiap malam ia akan pergi untuk bertemu dengannya. Mereka melakukan ciuman dan kemudian hubungan itu menjadi terlalu jauh: Ia pun hamil. Pada awalnya mereka merencanakan untuk melarikan diri ke kota besar dimana kemungkinan mereka akan aman di sana. Mereka tahu peraturan agama di desa dan menyadari bahwa mereka akan mendapatkan masalah besar. Para pemimpin pusat tidak perduli apa yang terjadi di pedalaman Turki. Kadang-kadang memang ada imam atau mullah dan para tua-tua yang dihukum karena mereka mencoba untuk mempraktekkan hukum Islam (Sharia) dan melanggar hukum sekular pemerintah. Tetapi biasanya pemegang otoritas lebih tertarik dengan kota-kota besar yang dipenuhi oleh para turis dan menutup mata mereka terhadap apa yang terjadi di desa-desa.
Saya ingat wajah muda mereka. Saya tidak memahami seluruh situasinya; saya hanyalah seorang gadis kecil. Tetapi ketika saya memandang mereka saya bisa melihat bahwa mereka berbahagia. Kebahagiaan mereka membuat saya bahagia juga, dan saya ingin tersenyum.
Bukannya menikah dengan orang pilihannya, mereka berbicara kepada ayah saya. Kehamilan adalah sebuah alasan baik untuk mendapatkan ijin menikah, itu yang mereka kira.
Celakanya, kakakku salah dalam mengkalkulasikan cinta ayah kami padanya dan obsesi ayah dengan agamanya. Ternyata ia menjadi sangat marah. Bukannya membiarkan dua orang yang sedang jatuh cinta ini menikah dan membangun cinta mereka, ia membawanya ke para pemimpin agama dan mereka menetapkan bahwa kakakku telah melakukan dosa perzinahan. Ia dijatuhi hukuman mati dengan dilempari dengan batu. Mereka tidak menunjukkan belas kasihan bahkan terhadap janin dalam kandungannya. Ia telah menodai “kehormatan” keluarganya dan satu-satunya jalan untuk menghapus noda itu adalah dengan melenyapkan hidupnya yang baru bersemi itu. Janin dalam kandungannya juga merupakan noda, dan ciptaan kecil itu harus dihancurkan supaya keluarga kami bisa kembali hidup dengan terhormat.
Pada malam sebelum ia dieksekusi, ia datang ke kamar saya dan mengatakan kepadaku bahwa ia akan merindukan saya. Ia menangis dan memeluk saya di dadanya. Kemudian ia tersenyum dan berkata bahwa ia akan melihat bayinya yang belum lahir. Saya merasa bahagia, tidak tahu akan nasibnya, tetapi saya bisa merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Saya begitu takut!
Saya masih ingat matanya yang hitam; ia menatap langit ketika tanah digali dan ia dimasukkan ke dalamnya. Ia dibungkus dengan kain putih dan tangannya diikat ke tubuhnya. Ia dikubur hingga batas pinggang. Massa mengelilinginya dengan batu di tangan mereka dan mulai melemparinya dengan batu sambil menyerukan Allah-u-Akbar! Allah-u-Akbar!  sebagai tambahan atas kegilaan yang mereka lakukan. Kakakku menggelepar kesakitan sementara batu-batu menghantam tubuhnya yang lemah dan memecahkan kepalanya. Darah mengalir keluar dari wajah, pipi, mulut, hidung dan matanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah membungkukkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Perlahan-lahan gerakannya melambat dan akhirnya berhenti meskipun hujan batu terus berlangsung. Kepalanya tertelungkup di dadanya. Wajahnya yang penuh darah tetap tenang. Semua kesakitan telah pergi. Massa yang histeris menjadi kasihan dan teriakan Allah-u-Akbar pun berhenti. Seseorang mendekat, dengan sebuah batu besar di tangannya, menghantam tengkorak kakak saya dengan batu itu untuk memastikan nyawanya berakhir. Sebetulnya ia tidak perlu melakukan itu karena ia sudah mati. Mata hitamnya yang biasanya bersinar dengan kehidupan sekarang tertutup. Tawa riangnya yang biasanya memenuhi dunia di sekelilingnya kini telah membisu. Jantungnya yang berdetak dengan cinta surgawi untuk waktu yang hanya singkat saja, sekarang telah berhenti. Bahkan janinnya tidak diberikan kesempatan untuk menghirup udara. Janin ini menemani ibunya yang masih muda di tempatnya yang sunyi dan kuburannya yang dingin, atau siapa yang tahu, mungkin ke tempat yang lebih baik dimana cinta memerintah dan kesakitan serta kebodohan tidak dikenal. Nyawa kedua mahluk hidup ini harus dihapus supaya ayah saya bisa menjaga kehormatannya.
Ia ingin menikah dengan pria yang ia cintai. Ia memimpikan bisa mengenakan gaun putih di hari pernikahannya; dimana akan ada sebuah pesta perayaan yang besar, banyak orang akan diundang dan mereka semua akan mengucapkan selamat kepadanya, menyanyikan lagu-lagu sukacita, dan melemparkan bunga dan guntingan kertas berwarna kepadanya. Ya, memang masih ada perayaan, tetapi bukan perayaan pesta pernikahannya. Ia memang masih mengenakan pakaian putih, tetapi itu bukan gaun putih untuk pernikahannya. Banyak orang datang ke pesta itu, tetapi mereka datang untuk mengutukinya, dan melemparinya dengan batu. Tidak ada musik yang dimainkan dan tidak ada lagu-lagu sukacita yang dinyanyikan; hanya teriakan Allah-u-Akbar yang memenuhi udara. Pelukan yang ia terima hanya dari tanah yang dingin dimana separuh tubuhnya dikubur. Ciuman yang ia terima hanya dari batu-batu yang dilemparkan kepadanya dan merobek dagingnya serta menghancurkan tulang-tulangnya. Mereka menciumnya dengan kematian. Ia tidak dipersatukan dengan pria yang ia cintai tetapi dinikahkan dengan kematian.
Ini adalah sebuah tragedi bagi kekasih kakak saya. Hidupnya menjadi tidak berarti. Ia mendapatkan cambukan, tetapi hanya itu saja. Ia bisa saja melupakan seluruh kisah asmara mereka dan melanjutkan hidupnya, tetapi ia tidak sanggup melakukannya. Saya setiap hari melihatnya berdiri di depan pintu rumah kami, seolah-olah sedang menunggu kakak saya untuk keluar dan bertemu dengannya. Saya melihatnya menangis. Saya hanya bisa membayangkan bahwa ketika ia tidak menangis di depan rumah kami, maka saat itu ia sedang berada di pemakaman, menangis di atas makam orang yang ia kasihi dan bayinya. Hingga suatu hari ia tidak sanggup lagi menanggung penderitaannya dan kemudian ia pun gantung diri hingga mati.
Kematiannya didiamkan dan tak ada orang yang membicarakannya. Mungkin tak ada orang yang peduli. Ia dipersatukan dengan kekasihnya dan bayinya. Tak ada lagi orang yang bisa menyakiti mereka. Tak ada lagi yang bisa memisahkan mereka.
Ini adalah sebuah kisah sedih. Tetapi berbeda dengan cerita Romeo dan Juliet, ini adalah kisah nyata yang belum pernah diungkapkan. Tak seorang pun membicarakan kedua orang yang tengah kasmaran itu. Tak ada orang yang menangisi mereka. Tidak hanya mereka dikubur, tetapi memori mengenai mereka berdua juga dikubur seolah-olah mereka tidak pernah eksis. Cinta mereka yang tulus membuat orang lain merasa malu, perasaan malu yang harus dihilangkan dengan darah mereka.
Tetapi bagian yang paling menyedihkan adalah bahwa, berdasarkan hukum Islam, kakakku layak dihukum mati. Para tua-tua yakin bahwa ia akan dibakar di api neraka hingga selama-lamanya. Tidak, saya tidak bisa membayangkan bahwa Tuhan akan mengirimkan seseorang ke neraka karena mencintai seseorang dan karena merasa bahagia oleh cinta itu. Saya tidak bisa menerima tuhan yang sadis seperti itu.
Ketika saya telah berusia delapan belas tahun, saya menikah dengan seorang pria Turki yang bekerja sebagai bisnisman. Ia berasal dari Jerman. Ketika saya datang ke Jerman, saya menemukan bahwa ia sudah memiliki seorang isteri yang lain.
Ia bukan seorang yang jahat. Ia sangat baik, tetapi ia seorang Muslim. Ia tidak bisa mengerti mengapa orang Eropa tidak suka poligami. Ia tidak mengijinkan kami isteri-isterinya keluar rumah. Ia melindungi kehormatan kami dengan cara yang aneh.
Kemudian kami pindah ke Inggris. Di sini kami bahkan lebih terisolasi daripada di Jerman karena hanya ada sedikit orang Turki di negara ini. Di Jerman, paling tidak kami masih bisa bertemu dengan orang-orang Turki yang lain.
Hubunganku dengan isteri pertama suamiku seperti teman. Tentu saja ada rivalitas diantara kami, tetapi saya sendirian dan tidak bisa keluar rumah untuk bertemu dengan orang lain. Hidupnya membosankan dan kosong sama seperti hidup saya. Kami tidak dapat membenci satu sama lain; kami harus menjadi teman untuk mengatasi masalah-masalah kami. Aku dan dia seperti dua orang pasangan sel. Kami saling memiliki. Tidak ada banyak ruang untuk antagonisme atau sakit hati.
Saya memiliki lima anak, dia empat anak. Ia menempati posisi yang lebih istimewa dalam keluarga kami karena ia memiliki anak laki-laki. Sejauh ini saya hanya melahirkan anak-anak perempuan.
Kami berdua berpendidikan, tetapi ia sangat terobsesi dengan anak-anak sehingga ia berhenti membaca buku. Saya masih mencoba untuk belajar, barangkali suatu hari kelak saya akan dibebaskan...membaca buku, tetap memasukkan informasi ke dalam otakku, sebab aku suka berpikir. Ia sendiri tidak suka membaca buku atau berpikir, karena itu saya merasa sendiri.
Terkadang saya berpikir untuk melarikan diri, tetapi saya memiliki lima orang anak perempuan. Saya tidak bisa meninggalkan mereka atau lari dari mereka. Saya merasa terjebak.
Meskipun saya sudah meninggalkan Islam cukup lama, saya tidak pernah berhenti berdoa dan berpuasa. Suami saya menyimpan rotan untuk ketidaktaatan.
Ketika saya coba memprotes, mulut saya dibungkam dengan kutipan dari Quran. Islamlah yang menentukan hidup kita. Betapa bodohnya jika ada orang yang menjalani hidup mereka berdasarkan sebuah buku yang ditulis jauh di masa lalu?
Saya tidak sedang menyesali hidup saya. Tetapi saya benar-benar benci dengan Islam. Paling tidak saya bisa mempraktekkan tradisi tertentu, tetapi Islam telah menghancurkan budaya kami, menurunkan derajat kaum wanita menjadi budak dan membiarkan mereka dalam kebodohannya. Apa yang bisa anda harapkan dari seorang wanita tak berpendidikan?
Ketika saya memandangi anak-anak perempuanku, saya berdoa bahwa mereka akan hidup di sebuah dunia yang bebas, bebas dari Islam dan perbudakan ini.

Mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Memiliki 9 Istri?

Mengapa  Mempunyai 9 Istri?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan sembilan wanita. Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari poligami beliau ini. Pertama, beliau tidak menikahi wanita-wanita yang masih gadis, padahal beliau mampu untuk melakukannya. Gadis yang beliau nikahi hanya satu orang saja (Aisyah). Sebagian istri beliau adalah janda-janda yang telah memiliki anak, seperti Ummu Salamah, Khodijah, yang lain adalah janda seperti Hafshah, Zainab, dll. Tujuan beliau menikahiummahatul mukminin tersebut bukan untuk mencari kepuasan, kalau tujuannya mencari kepuasan pastilah beliau menikahi para gadis.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau menikahi banyak wanita agar sunnah-sunnah yang tidak tampak kecuali di rumah, bisa diriwayatkan secara utuh. Istri-istri beliau berperan dalam meriwayatkan sunnah-sunnah beliau saat di rumah dan para sahabat meriwayatkan sunnah-sunnah beliau ketika di luar rumah. Seandainya beliau hanya beristrikan empat wanita, dua, atau satu saja, maka sunnah-sunnah beliau di rumah hanya disandarkan pada orang yang sangat sedikit, sehingga Allah perintahkan beliau untuk menikahi sembilan perempuan agar riwayat-riwayat tersebut disandarkan kepada orang yang banyak (sehingga menguatkan riwayatk tersebut).
Tujuan lainnya adalah menundukkan hati kabilah-kabilah besar agar mereka memeluk Islam. Seperti pernikahan beliau dengan Zainab binti Huyai bin Akhtab radhiallahu ‘anha, kemudian masuklah segolongan orang Yahudi ke dalam Islam. Demikian juga pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahsyradhiallahu ‘anha yang menjadikan kabilah dari Zainab ini masuk Islam. Juga pernikahan beliau dengan anak Abu Bakar dan Umar, yakni Aisyah dan Hafshah radhiallahu ‘anhum, sehingga hubungan beliau semakin dekat dengan dua sahabatnya ini layaknya menteri-menteri beliau.
Jadi Allah memerintahkan beliau menikahi banyak wanita memiliki hikmah dan pelajaran yang banyak, baik hikmah tersebut kita ketahui atau hikmah itu Allah simpan dalam ilmu-Nya saja, dan hal ini termasuk kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara kekhususan lain bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bisa jadi beliau melewati dua atau tiga hari dalam keadaan berpuasa. Beliau berbuka ketika maghrib lalu melanjutkan puasanya di esok hari atau bahkan sampai lusa. Pada saat para sahabat mengetahui hal ini, mereka pun merasa khawatir dengan kondisi beliau, beliau menjawab “Aku berbeda dengan kalian. Saat aku tertidur Rabb ku memberiku makan dan minum.” Kekhususan lain bagi beliau adalah ketika beliau wafat di hari Senin, beliau baru dimakamkan di hari Rabu. Jasad beliau sama sekali tidak berubah, berbeda dengan orang lain jika mengalami hal serupa tanpa diberikan formalin dan keadaan kota Madinah yang sangat panas, keadaan fisik beliau tidak berubah sama sekali.
Dengan demikian kita bisa mengetahui keistimewaan yang diberikan Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kekuatan fisik beliau, kekhususan boleh sembilan wanita, bahkan kekhususan setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.9 istri nabi muhammadmenikahi sembilan wanita, bahkan kekhususan setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.