29 Nov 2013

TUNGGU APALAGI.....?????











Ukhti…janganlah menunda-nunda kebaikan.  Tutupilah auratmu dan ingatlah firman Allah SWT ini….



28 Nov 2013

DIRI TAK LUPUT DARI DEBU DOSA



Dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat. Tanpa terasa, tapi begitu berbekas. Kalau saja tak ada cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

Perjalanan hidup memang penuh debu. Sedikit, tapi terus dan pasti; butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri. Masalahnya, seberapa peka hati menangkap itu. Karena boleh jadi, mata kepekaan pun telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yang mulai menggunung.

Seorang mukmin saleh mungkin tak akan terpikir akan melakukan dosa besar. Karena hatinya sudah tercelup dengan warna Islam yang teramat pekat. Jangankan terpikir, mendengar sebutan salah satu dosa besar saja, tubuhnya langsung merinding. Dan lidah pun berucap, ''Na’udzubillah min dzalik!''

Namun, tidak begitu dengan dosa-dosa kecil. Karena sedemikian kecilnya, dosa seperti itu menjadi tidak terasa. Terlebih ketika lingkungan yang redup dengan cahaya Ilahi ikut memberikan andil. Dosa menjadi biasa.

Rasulullah bersabda, ''Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa.''

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah mewanti para sahabat agar berhati-hati dengan sebuah kebiasaan. Karena boleh jadi, sesuatu yang dianggap ringan, punya dampak besar buat pembentukan hati.

Dari Anas Ibnu Malik berkata, '' Rasulullah menyampaikan sesuatu di hadapan para sahabatnya. Beliau Shallallahu alaihi wasallam berkata: ''Telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka, maka aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti pada hari ini. Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.' Anas berkata, ''Tidak pernah datang kepada sahabat Rasulullah suatu hari yang lebih berat kecuali hari itu.'' Berkata lagi Anas, ''Para sahabat Rasulullah menundukkan kepala-kepala mereka dan terdengar suara tangisan mereka.'' (Bukhari & Muslim).

Pertama, Sekecil apa pun dosa, terlebih ketika menjadi biasa, punya dampak tersendiri dalam hati, pikiran, dan kemudian perilaku seseorang. Repotnya, ketika si pelaku tidak menyadari. Justru orang lain yang lebih dulu menangkap ketidaknormalan itu.

Di antara dampak dosa yang kadang remeh dan tidak terasa adalah sebagai berikut: pertama, melemahnya hati dan tekad. Kelemahan ini ketika tanpa sadar, seseorang tidak lagi bergairah menunaikan ibadah sunah. Semuanya tinggal yang wajib. Nilai-nilai tambah ibadah menjadi hilang begitu saja. Tiba-tiba, ia menjadi enggan beristighfar. Sementara, hasrat untuk melakukan kemaksiatan mulai menguat.

Kedua, seseorang akan terus melakukan perbuatan dosa dan maksiat, sehingga ia akan menganggap remeh dosa tersebut. Padahal, dosa yang dianggap remeh itu adalah besar di sisi Allah ta’ala.

Di antara bentuk itu adalah ucapan-ucapan dusta. Awalnya mungkin hanya sekadar canda agar orang lain bisa tertawa. Tapi, ucapan tanpa makna itu akhirnya menjadi biasa. Padahal di antara ciri seorang mukmin selalu menghindar dari perbuatan laghwi, tanpa makna. Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. 23: 1-3).

Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, pernah memberikan perbandingan antara seorang mukmin dan fajir. Terutama, tentang cara mereka menilai sebuah dosa. Beliau r.a. berkata, ''Sesungguhnya seorang mukmin ketika melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari).

Ketiga, dosa dan maksiat akan melenyapkan rasa malu. Padahal, malu merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan. Jika rasa malu hilang, maka lenyaplah kebaikan. Nabi saw. bersabda, “Malu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Bukhari Muslim).

Keempat, sulitnya menyerap ilmu keislaman. Ini karena dosa mengeruhkan cahaya hati. Padahal, ilmu keislaman merupakan pertemuan antara cahaya hidayah Allah swt. dengan kejernihan hati.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i pernah menuturkan pengalaman pribadinya. Ketika itu, ulama yang biasa disebut Imam Syafi’i ini merasakan adanya penurunan kemampuan menghafal. Ia pun mengadukan hal itu ke seorang gurunya yang bernama Waqi’. Penuturan itu ia tulis dalam bentuk untaian kalimat yang begitu puitis.

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waqi'

Beliau memintaku untuk membersihkan diri dari segala dosa dan maksiat.

Beliau pun mengajarkanku bahwa ilmu itu cahaya.

Dan cahaya Allah tidak akan pernah menembus pada hati yang pendosa.

Ada satu dampak lagi yang cukup memprihatinkan. Seseorang yang hatinya berserakan debu dosa enggan bertemu sapa dengan sesama mukmin. Karena magnit cinta dengan sesama ikhwah mulai redup, melemah. Sementara, kecenderungan bergaul dengan lingkungan tanpa nilai justru menguat. Ada pemberontakan terselubung. Berontak untuk bebas nilai.

Perjalanan hidup memang bukan jalan lurus tanpa terpaan debu. Kian cepat kita berjalan, semakin keras butiran debu menerpa. Berhati-hatilah, karena sekecil apa pun debu, ia bisa mengurangi kemampuan melihat. Sehingga tidak lagi jelas, mana nikmat; mana maksiat.

Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya...

Doa Calon Suami dan Calon Istri


Ya Allah...Ya Rabbil Izzaty . . . .

Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi

Ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia adadisisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....

Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan karuniakanlah padaku keturunan yang soleh

----------------------------------------
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
----------------------------------------Aamiin Ya Robb.

KUTEMUKAN CINTA KARENA ALLAH


alhamdulillah ya allah, engkau telah menjaga perasaanku. menjaga dari segala nafsu biadab
yang hampir menenggelamkan keimanan yang ada di dalam jiwa ini.
*ucapan terbaik aku berikan kepada mu calon istriku
 ,, di saat aku terlelap nikmat karena kekeliruanku, ia lah yang membangunkanku
untuk kembali bangkit menjadi pribadi sholih yang pernah ada.
ia mengingatkan aku bahwa hati-hati dengan lawan jenis, hati-hati bahwa jaring-jaring setan ada
di depannya.
alhamdulillahi jaza killahu khoiro ya ..
dan pada malam ini, aku termenung akan kata-kata yang membangunkan diriku dari keterpurukan iman itu.
suasana dingin pun menemani ketermenunganku disertai rintkan hujan membasahi tanah liat yang ada di atasrumahku.
di saat itu aku juga bersedih. bersedih karena aku telah gagal menjaga persaanku untuk calon istriku nanti.
*aku tersadar telah berlebihan dalam berhubungan dengannya.
ya allah maafkan aku, atas kekeliruanku tentang kalimat cinta yang terlontar dari mulut biadab ini.
*astaghfirulloh..astaghfirulloh..
dan pada malam itu ,, aku memutuskan komunikasi dengan nya. dengan aku lontarkan sebuah kalimat
kita stop komunikasi”
aku katakan padanya, “kita harus berhasil menjaga iman yang allah berikan pada kita. dengan kita berhenti komunkasi
bukan berarti kita tidak berjodoh”
:’(
aku pun bersedih , dan ia pun menangis kecewa , kecewa dan sangat kecewa padaku.
wahai cinta dalam hidupku,,
setengah hati yg ada di dalam diriku ini adalah milikmu,,dan setengah hati lagi ini adalah milik sang pencipta.
aku tak ingin mengecewakan DIA hanya karena nafsu setan yang semakin menjalar.
aku ingin berperan seperti ayyas yang dapat mendampingi ainal muna dalam kisah “BUMI Cinta”,
AKU juga harus bisa menjadi seorang fachri dalam perjalanannya melaksanakan “AYat-ayat cintanya”,
dan wahai pujaan hati ku,,
dengarlah kata-kata ku ini,, kumohon dengarlah..
“AKU HANYA INGIN BERSANDING DENGAN MU wahai calon istriku dalam “kemurniaan cinta”
:’(
love you,, i love you too,, but my highest love just to allah only.
wanita cantiku, kau harus tetap berusaha menjadi gadis yang punya kefahaman yang tinggi agar dapat menjadi istri
terbaik dunia dan ratu TER- sempurna di surga.
berusahalah untuk tetap tersenyum disetiap keadaan, walaupun sulit, bahkan sangat sulit untuk melakukannya
karena senyum adalah obat terbaik untuk hati disaat sakit maupun senang. .
Jika hujan bagaikan “kesulitan”
dan matahari bagaikan “kebahagiaan”
maka kita membutuhkan keduanya untuk membuat “pelangi
Ku tutup mataku dari semua pandanganku
bila melihat wajahmu ku yakin ada cinta
ketulusan hati yang mengalir lembut
Penguasa alam tolong pegangilah aku
biar ku tak jatuh pada sumur dosa yang terkutuk
yang menyesatkan cintaku!!,
gadis pujaan hatiku,,
ketika kehilangan sesuatu yang berharga,
maka sadarilah,,,
terdapat sesuatu yang lebih berharga dari ” s e m u a n y a “,,
APA ???
Kesadaran kita untuk mendapatkan kasih sayang dari ALLah.
dan ingat,, selama kesadaran itu masih ada,,
maka selamanya, kita akan mendapatkan sesuatu yang paling berharga.
awalnya tak semanis gula dan memang pahit bahkan sangat pahit,
tapi akhirnya akan indah laksana pengunungan yang ada ditengah laut biru.
itulah arti “cinta karena allah”.
dan malam itu pun kami berpisah dengan membawa satu label.
APA ??
“kita harus tetap mencitai sesuatu dan TIDAK BOLEH MENCITAI ITU MELEBIHI CINTA KITA PADA ALLAH”
alhamdulilah ya allah, akhirnya ia menerima segala keputusanku ini.
dan aku doakan,
“SEMOGA KAU dan aku di pertemukan dalam pertemuan mulia dan keagungan di hadapan allah SWT.”
:’(
*ALHAMDULILLAH YA ALLAH, ENGKAU MASIH CINTA DENGAN KAMI

Suara hatiku masih belum berjudul...

Banyak yang bilang agar 'mencintai dalam diam'
Tapi tahukah kamu kalau itu tidak mudah?
Kalau kamu tahu, berarti bolehkah aku mengutarakannya?
Kamu pun tertawa
Dan berlalu begitu saja

Terima kasih


Sebenarnya banyak yang belum aku mengerti tentang untuk apa perasaan ini hadir dengan mudahnya. Mudah dengan hanya satu kali melihatnya dan tersenyum kepadaku, langsung hati berdebar. Aneh! Kalau bisa menghadirkan satu saja cinta untuk dipegang teguh komitmennya sampai waktunya benar-benar tiba, yah kalau bisa.

Namanya saja nafsu. Kalau cinta pasti sudah Allah goreskan satu nama di Lauh Mahfudz-Nya dan menuntunnya menemukan tulang rusuk yang hilang untuk disempurnakan. Hanya saja kembali dengan waktu, persiapan, dan komitmen. Kalau tanpa ketiganya, maka cinta hanya sebatas cinta yang diucapkan tanpa pernah dibuktikan.

Bagaimana dengan hati yang selalu merindu saat tak bertemu dan tersakiti saat berpaling ke lain hati? Padahal dia belumlah menjadi seseorang yang Allah telah takdirkan? Apakah masih salah dengan perasaan yang begitu membuncahnya tanpa mengerti mengendalikannya? Aku harap tidak ada yang salah selagi cinta ini tidak pernah disalahartikan kehadirannya serta tidak pernah dipermainkan sehingga tidak banyak telaga hati yang teracuni.


Untukmu...
Suatu hari akan kau temukan sekerat hati yang telah hampir kering ini
Bukan karena aku tak percaya kau 'kan datang
Bukan karena lelah menantimu yang tak ada kabar
Bukan karena kau yang tak pernah menghilang
Hanya saja karena kau telah menghisap habis dayaku
Menghisapnya lewat waktu yang ku pastikan
Kau akan datang
Dengan mereka yang akan menjadi saksi
Dengan mereka yang akan menjadi kamera zaman
Dengan mereka, mereka, mereka
Yang mencintaimu dan mencintaiku
Yang menerimamu dan menerimaku

Untukmu...
Bukan hanya sekedar bait per bait ini aku cintaimu
Bukan hanya dengan ketakutan kau 'kan kecewa
Bukan !
Kau terlalu istimewa untuk ku deskripsikan dengan bait
Kadang dirimu terlalu indah dibandingkan syair
Dirimu terlalu berharga dibandingkan gadget mahal
Dirimu terlalu nikmat dibandingkan tidur di tengah kelelahan
Dirimu apa yang selalu aku syukuri
Itu saja

Untukmu...
Tiada lagi yang patut aku tulis
Tiada lagi yang patut aku khayalkan
Tiada lagi yang patut aku lukiskan
Karena kau telah nyata hadir
di sini



(TGR 16:47 PM)

27 Nov 2013

Surat Cinta Untuk Calon Istriku (Part II)

Calon Istriku,
Tiada kata yang lebih layak kuucapkan selain puji dan syukur kepada Allah yang telah memilihkan pasangan hidup yang terbaik untukku, dan insya allah engkaulah orangnya. Walaupun…sejujurnya seringkali terbersit keraguan di hatiku, pantaskah aku yang masih apa adanya ini mendampingimu?
Aku teringat akan sebuah kejadian empat setengah tahun yang silam pada waktu awal aku mengenal dirimu, bukanlah sebuah kebetulan, karena itu adalah suratan takdir yang sudah Allah tuliskan buat kita. Aku masih teringat semua, kala itu engkau masih sosok gadis yang lugu, manja dan perlu seorang pembimbing untuk mengarahkan hidupmu. Dan aku merasa akulah orang itu. Bukan karena aku dirimu berubah menjelma menjadi sosok akhwat yang sangat anggun seperti sekarang ini, tapi karena tuntunan dari Allah swt dan tekadmu yang sangat kuat.
Calon Istriku,
Kata-kataku ini terlahir juga bukanlah sebuah kebetulan dan kepintaranku merangkai kata, akan tetapi yakinlah bahwa rangkaian kata yang sekarang kutuliskan untukmu benar-benar terlahir dari hati sanubariku yang paling dalam yang telah engkau genggam bersama hatimu. Resapilah apa yang engkau baca, karena saat ini aku tengah berbicara dengan suara hatiku.
Calon Istriku,
Aku berharap akan sebuah takdir yang akan menghantarkan kita kepada sebuah muara yang sangat indah, dambaan setiap orang yang saling mencinta, berlabuh disebuah mahligai pernikahan. Sebuah harapan yang akan dikabulkan Allah jika kita benar-benar yakin kepada-Nya.
Calon istriku,
Hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke 22, Aku sangat sedih sekali, tak ada yang bisa aku berikan untukmu selain dari luapan kata hatiku ini, demi Allah yang cinta kita berada dalam genggaman mahabbah-Nya, yang telah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi, dan menciptakan tujuh lapis belahan setiap hati manusia, maka sungguh ketika aku mencintaimu atas dasar cintaku kepada Allah telah mengantarkan aku pada sebuah ketenangan bathin karena sosok anggun dan kesholehahan serta kebaikanakhlak yang terpancar dari wajah dan hatimu.
Calon istriku,
Demi luasnya hati yang telah engkau bukakan untukku, Langit dan bumi tidak bisa menampung cintaku, dan akan tetapi hatimu bisa menampungnya, sehingganya hatiku tenang dan nyaman. Maka aku akan mencintaimu melebihi luasnya langit dan bumi, tak berapa lama lagi hari yang berbahagia itu akan menjelang, sebelum kita berlayar izinkan aku berpesan dan berwasiat kepadamu, agar kelak ketika kita berlayar kapal kita tak oleng ditengah samudera kehidupan yang akan kita jalani, hari ini aku ingin berterus terang kepadamu, bahwa sosok suami yang akan menahkodai bahtera Rumah tanggamu kelak bukanlah sesempurna Cintanya Nabi Muhammad kepada ‘Aisyah, juga bukan setegar cintanya Nabi Ibrahim kepada siti hajar, dan juga bukan sekuat cinta nabi Adam terhadap Siti Hawa, Suami yang akan menahkodai kehidupanmu tidak setampan Nabi Yusuf sehingga Zulaikha jadi terpesona dan jatuh cinta, dan akan tetapi calon suamimu hanyalah seorang manusia yang lemah penuh dengan segala kekurangan, penuh dengan kekhilafan dan dosa, jika ingin pintalah kepadaku apa saja yang engkau inginkan, tapi dikau harus ingat akan satu hal tidak semua keinginanmu bisa aku kabulkan, karena keterbatasanku sebagai Insan yang dho’if. Aku akan memberikan sebuah permisalan padamu, dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan, jangan lewatkan kata demi kata yang aku tuliskan untukmu, karena apa yang akan aku sampaikan ini adalah kunci keberhasilan sebuah rumah tangga yang akan kita jalani itu, walau diriku tidak selincah Leonal Messi dalam bermain bola, juga bukan sehebat Christian Ronaldo dalam melakukan tendangan gawang, apalagi sepintar Bambang pamungkas. Dan akan tetapi Aku ingin mengatakan bahwa Bahtera rumah tangga itu tak ubahnya seperti sebuah klub dalam sepak bola, dirimu pasti terheran-heran dengan apa yang akan aku sampaikan kepadamu, tapi renungkanlah bahwasanya apa yang akan aku sampaikan ini benar-benar akan menjadi sebuah kenyataan dalam realita kehidupan kita kelak.
Calon Istriku,
Leonal Messi memang lincah dalam bermain bola, dan akan tetapi dia tak akan pernah bisa bermain sendirian di Lapangan, sehebat apapun dia bermain pasti butuh kepada teman yang kompak untuk mencetak sebuah gol, sehingga kemenangan bisa di raih. Begitu juga dengan Christian Ronaldo, dia tidak boleh merasa paling berjasa dalam memenangkan sebuah pertandingan karena gol-gol indah yang tercipta lewat kakinya, dan dia harus mengatakan bahwa kemenangan yang diraih adalah berkat kerjasama tim yang solid.
Calon Istriku,
Aku bukan sedang mengajakmu untuk mencintai hobiku bermain bola, dan akan tetapi didalam sebuah klub bola terdapat sebuah pelajaran yang sangat indah jika direnungkan.  Di dalam sepak bola sang striker janganlah merasa paling berjasa, karena selalu mencetak gol, karena kalau bukan bola itu berasal dari kerjasama tim, maka bola itu tak akan pernah sampai kepadanya. Sang Kiper pun demikian, jangan pernah ada rasa riya dan ‘ujub sedikitpun ketika bisa menyelamatkan gawang, karena setiap posisi kita adalah amanah masing-masing untuk kita jalani. Mahligai Rumah tangga juga demikian, jangan merasa kita paling berjasa, jangan pernah berkata itu karena saya, akan tetapi katakanlah, ini berkat Allah swt yang telah mengabulkan usaha dan doa kita. Sebelah tanganku adalah separoh cinta, dan sebelah tanganmu adalah separoh cinta, ketika kita dipertemukan dan berjabat tangan dalam ikatan pernikahan maka jadilah kita cinta yang sempurna. Kita tidak akan sempurna sendirian, karena yakinlah setiap kita pasti punya kekurangan, maka kita saling menutupi setiap kekurangan yang kita miliki, sehingga cinta yang sempurna itu bisa kita raih.
Calon Istriku,
Ingatkanlah jika kelak suamimu keliru, jika ada hakmu yang terlalaikan, janganlah engkau ragu untuk menasehatiku, karena aku ingin rumah tangga kita kelak dibangun diatas saling menasehati didalam ketaatan kepada Allah, karena atas dasar inilah agama kita dibangun. sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Agama itu adalah nasehat” (HR Muslim).
Calon Istriku,
Bukan harta yang melabuhkan cintaku kepadamu, juga bukan kecantikan yang membuat aku mencintaimu, tapi karena Agama dan Akhlakmu yang membuat aku jatuh cinta kepadamu. Kelak aku ingin engkau akrab dengan kedua orang tuaku. Aku ingin mereka menyayangimu seperti anaknya sendiri, mulailah dengan berlaku lemah lembut kepadanya, membantu pekerjaannya, niscaya engkau akan disayang seperti anaknya sendiri.
Calon Istriku,
Simpanlah surat cinta dariku ini baik-baik. Kelak jika aku menjadi suami mu. Dan jika suatu saat aku lalai, maka tunjukkanlah surat ini untuk mengingatkanku. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk senantiasa belajar menjadi suami yang sholeh & terbaik buat kamu. Wallahu ‘alam Bishawab
Bekasi 27/11/2013
jemmymirdad,,

Surat Cinta untuk Calon Istriku Tercinta

Calon Istriku…Tiada kata yang lebih layak kuucapkan selain puji dan syukur kepada Allah yang telah memilihkan pasangan hidup yang terbaik untukku, dan insya allah engkaulah orangnya. Walaupun… sejujurnya seringkali terbersit keraguan di hatiku, pantaskah aku yang masih apa adanya inimendampingimu?
Calon Istriku…Kelak aku berharap engkau tidak kecewa mempunyai suami seperti aku. Aku bukanlah suami sholeh yang mungkin engkau idamkan selama ini untuk menjadi panutan terbaikmu. Namun, aku adalah seorang suami yang baru belajar dan jatuh bangun untuk berusaha menjadi yang terbaik.
Calon Istriku…Dalam perjalanan aku mengenalmu, mungkin banyak kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, yang mungkin membuatmu kesal, atau bahkan mungkin tidak ridho kepadaku. Karena itu aku mohon, katakan dengan terus terang jika aku salah,agar aku dapat mengubah perilaku ku itu, dan ma’afkanlah aku. Dan aku mohon, jangan pernah ada satu malam pun yang kau lewati dengan ketidak ridhoanmu padaku. Aku bertekad InsyaAllah aku tidak akan menutup mataku untuk tidur sebelum engkau mema’afkan aku, sebab aku khawatir, jika Allah menakdirkan mengambil nyawaku pada saat aku tidur dan dalam keadaan engkau tidak ridho kepadaku, maka aku tidak akan sanggup menahan pedihnya siksa dari Allah .
Calon Istriku…Kelak ketika aku menjadi suami mu nanti, mungkin terkadang Allah menghendaki kita terpisah dalam waktu yang cepat atau cukup lama. Karena itu, sejak awal aku mohon ma’af dan kerelaanmu, tentu saja akan banyak kewajibanku sebagai seorang suami yang tidak biasa  kutunaikan dengan baik selama masa tersebut. Semoga Allah membalas kesabaranmu dan menggantikannya dengan surga-Nya. Amien
Calon Istriku…Simpanlah surat cinta dariku ini baik-baik. Kelak jika aku menjadi suami mu. Dan jika suatu saat aku lalai, maka tunjukkanlah surat ini untuk mengingatkanku. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk senantiasa belajar menjadi suami yang sholeh & terbaik buat kamu.
Dengan cinta,
Calon Suamimu Tercinta

KALI INI PUN SURATKU UNTUKMU, TANPA JUDUL...



Aku ingin engkau ada disini …
Menemaniku saat sepi
Menemaniku saat gundah

Berat hidup ini tanpa dirimu …
Ku hanya mencintai kamu
Ku hanya memiliki kamu

Ku sadari ku salah melakukan ini
Ku cintai dirimu seegois ini
Aku tak peduli
Hatiku tlah terlanjur jatuh padamu

Mungkin aku berdosa, masuk di hidupmu
Biar menjadi harapan dalam hatiku
Karena ku yakin ini jalan kita
Takdir pertemukan kita untuk bisa bersama

Aku rindu setengah mati kepadamu
Sungguh ku ingin kau tahu
Aku rindu setengah mati
Ku sadari ku salah melakukan ini

Tapi mengapa aku tak pernah sadar
Mungkin aku berdosa masuk di hidupmu
Karena ini saat perasaan, tak seorang pun mengerti
Hanya aku, kamu dan Tuhan yang tahu

Meski t’lah lama kita tak bertemu
Ku slalu memimpikan kamu
Ku tak bisa hidup tanpamu
Karena ku yakin ini jalan kita

Takdir pertemukan kita untuk bisa bersama …



(TGR-BKS 20/10/2011)

26 Nov 2013

JAUHKAN DIRIMU DARI KEGANASAN DUNIA MAYA DAN MEDIA SOSIAL....!!!!


Ilmu - Perhiasan Tak Ternilai Bagi Muslimah





Seorang yang mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat harus memiliki pedoman dalam menapaki kehidupannya di dunia. Dan pedoman hidup seorang hamba semua telah diatur dalam syariat Islam. 

Seorang yang mendambakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat harus memiliki pedoman dalam menapaki kehidupannya di dunia. Dan pedoman hidup seorang hamba semua telah diatur dalam syariat Islam.

Seorang yang sukses bukanlah orang yang hidup dengan bersemboyan ‘semau gue’ dengan mengikuti hawa nafsunya, tapi orang yang sukses adalah orang yang mengambil Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan pemahaman As Salafus Shalih sebagai pengikat aturan hidupnya. Petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini tidak mungkin dapat diketahui tanpa menuntut ilmu syar’i. Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah yang baligh dan berakal (mukallaf) untuk menuntut ilmu. 

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim. ” (HR. Ahmad dengan sanad hasan. Lihat kitab Jami’ Bayan Al ‘Ilmi wa Fadllihi karya Ibnu ‘Abdil Bar, tahqiq Abi Al Asybal Az Zuhri, yang membahas panjang lebar tentang derajat hadits ini)
Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa ilmu yang wajib dituntut di sini adalah ilmu yang dapat menegakkan agama seseorang, seperti dalam perkara shalatnya, puasanya, dan semisalnya. Dan segala sesuatu yang wajib diamalkan manusia maka wajib pula mengilmuinya, seperti pokok-pokok keimanan, syariat Islam, perkara-perkara haram yang harus dijauhi, perkara muamalah, dan segala yang dapat menyempurnakan kewajibannya. 

Sebagai hamba Allah, seorang Muslimah wajib mengenal Rabbnya yang meliputi pengetahuan terhadap nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana diberitakan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. 

Selain itu, ia harus mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersendiri dalam Mencipta, Mengatur, Memiliki, dan Memberi Rezeki. Ia pun wajib menunaikan hak-hak Allah, yaitu beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sebagaimana tujuan penciptaannya. 

Allah berfirman :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. ” (Adz Dzariyat : 56)

Seseorang tidak akan berada di atas hakikat agamanya sebelum ia berilmu atau mengenal Allah Ta’ala. Pengenalan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menuntut ilmu Dien (Agama Islam).
Di samping mengenal Allah,
seorang Muslimah juga wajib mengenal Nabi-nya, yaitu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, karena beliau merupakan perantara antara Allah dengan manusia dalam penyampaian risalah-Nya. Sesuai dengan makna persaksiannya bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, maka ia wajib mentaati segala yang beliau perintahkan, membenarkan segala yang beliau khabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

 Hal ini sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya. ” (Al Hasyr : 7)

Ayat ini merupakan kaidah umum yang agung dan jelas tentang wajibnya seluruh kaum Muslimin mengambil sunnah yang telah tetap dan hadits-hadits shahih dalam aqidah, ibadah, muamalah, adab, akhlak, seluruhnya. Hal ini tidak akan diketahui kecuali dengan menuntut ilmu terlebih dahulu. 

Selain mengenal Allah dan Rasul-Nya, seorang Muslimah juga wajib mengenal agama Islam sebagai agama yang dianutnya, dengan memperhatikan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahihah, sehingga ia memiliki pendirian kokoh, tidak mudah terombang-ambing. Dan agar ia berada di atas cahaya, bukti, dan kejelasan dari agamanya.
 

Seorang Muslimah juga wajib membekali dirinya dengan ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan
, sehingga ia dapat menunaikan kewajibannya sesuai dengan tuntunan syariat. 

Sebagai isteri, seorang Muslimah dituntut agar menjadi isteri yang shalihah, sehingga ia dapat menjadi perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suaminya. 

Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah. ” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sifat-sifat wanita shalihah :
“… maka wanita shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka. ” (An Nisa’ : 34)

Maksud ayat ini bahwa wanita yang shalihah adalah yang menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentaati-Nya, mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan menunaikan hak-hak suaminya dengan mentaatinya dan menghormatinya, serta menjaga harta suami, anak-anak mereka, dan kehormatannya tatkala suaminya tidak ada. 

Untuk menjadi wanita shalihah yang seperti ini, seorang Muslimah membutuhkan ilmu. 

Sebagai seorang ibu, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Di bawah kepemimpinan suami, isteri adalah penjaga rumah tangga suami dan anak-anaknya.

sebagaimana dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda :
“Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, wanita adalah pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, maka setiap kalian adalah pemimpin, akan ditanya tentang yang dipimpinnya. ” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Hasil didikan seorang ibu terhadap anak-anaknya inilah yang termasuk perkara yang akan ditanyakan oleh Allah kelak di hari kiamat. Karena itulah Muslimah harus menuntut ilmu syar’i sebagai bekal mendidik anak-anak sehingga fitrah mereka tetap terjaga dan menjadi penyejuk hati karena keshalihan mereka. 

Di tempat lain,
bila seorang Muslimah belum menikah, maka sebagai anak ia wajib taat pada orang tuanya selama tidak memerintahkan kepada maksiat. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya… . ” (Al Ankabut : 8)

Dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
“Dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka pada orang tua, membunuh jiwa (tanpa hak), dan sumpah palsu. ” (HR. Bukhari)

Untuk dapat berbuat baik dan menunaikan hak-hak orang tua dengan benar, seorang Muslimah tidak bisa lepas dari ilmu. 
Seluruh kewajiban ini harus dapat ditunaikan dengan dasar ilmu. Karena jika tidak, akan terjadi berbagai kesalahan dan kerusakan. Maka tidak heran, bila para Muslimah yang bodoh terhadap agamanya melakukan berbagai praktek kesyirikan dan kebid’ahan. 

Akibat kebodohannya pula, banyak Muslimah yang durhaka pada suami atau orang tuanya. Atau terjadi berbagai kesalahan dalam mendidik anak sehingga muncullah generasi yang berakhlak buruk, bahkan bisa jadi durhaka pada orang tua yang telah merawat dan membesarkannya. Karena kebodohannya pula, banyak Muslimah yang tidak mengetahui bagaimana ia harus menjaga kehormatannya, sehingga ia menjadi fitnah dan terjerumus dalam perzinahan dan berbagai kemaksiatan. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari yang demikian itu. 

Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma berkata, telah bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Aku berdiri di muka pintu Syurga, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah orang-orang miskin, sedang orang-orang kaya masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya. Dan ahli neraka telah diperintahkan masuk neraka. Dan ketika aku berdiri di dekat pintu neraka, maka aku dapatkan mayoritas penghuninya adalah para wanita. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya dengan menuntut ilmu, seorang Muslimah akan mengetahui jalan yang selamat.
Kaum Muslimah masa kini akan menjadi baik bila mereka mau mencontoh para Muslimah generasi terdahulu (generasi salafuna shalih), mereka sangat memperhatikan dan bersemangat dalam menuntut ilmu. 

Dalam sebuah hadits dari Abi Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata : “Seorang wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata :

‘Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah membawa haditsmu, maka jadikanlah bagi kami satu harimu yang kami datang pada hari tersebut agar engkau mengajarkan pada kami apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. ’ Maka beliau bersabda : ‘Berkumpullah pada hari ini dan ini di tempat ini. ’ Maka mereka pun berkumpul, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendatangi mereka dan mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah kepada beliau. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun sangat bersemangat mengajar para shahabiyah, sampai-sampai beliau menyuruh wanita yang haid, baligh, dan merdeka untuk menyaksikan kumpulan ilmu dan kebaikan. Bahkan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memutuskan udzur wanita yang tidak memiliki hijab, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahihain dari Ummu ‘Athiyah Al Anshariyah radhiallahu ‘anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyuruh kami mengeluarkan wanita yang merdeka, yang haid, dan yang dipingit untuk keluar pada hari Iedul Fithri dan Adha. Adapun yang haid memisahkan diri dari tempat shalat, dan mereka pun menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin. Aku berkata : ‘Wahai Rasulullah! Salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab. ’ Beliau bersabda : ’Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya. ’ “

Oleh karena itulah, kita dapatkan dalam sejarah Islam, di antara mereka ada yang menjadi ahli fiqih, ahli tafsir, sastrawati, dan ahli dalam seluruh bidang ilmu dan bahasa. Sebagai contoh, Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang dididik dalam madrasah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga beliau menjadi wanita yang berilmu dan shalihah. 

Imam Az Zuhri rahimahullah berkata : ”Seandainya ilmu ‘Aisyah dikumpulkan dan dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, maka ilmu ‘Aisyah lebih afdhal. ”

Bahkan ‘Aisyah merupakan guru dari beberapa shahabat, ia menjadi bahan rujukan mereka dalam masalah hadits, sunnah, dan fiqih. Urwah bin Az Zubair berkata : “Aku tidak melihat orang yang lebih mengetahui ilmu fiqih, pengobatan, dan syi’ir ketimbang ‘Aisyah. ”

Para wanita dari kalangan tabi’in juga berdatangan ke rumah ‘Aisyah untuk belajar, di antara muridnya adalah Amrah bintu ‘Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah. Ibnu Hibban berkata : “Dia adalah orang yang paling mengetahui hadits-haditsnya ‘Aisyah. ”

Di antara deretan nama wanita generasi terdahulu yang cemerlang dalam ilmu adalah Hafshah bintu Sirin yang masyhur dengan ibadahnya, kefaqihannya, bacaan Al Qur’annya, dan hadits-haditsnya. Begitu pula Ummu Darda Ash Shuqra 
Hujaimah, ia seorang yang faqih, ’alimah, banyak meriwayatkan hadits, cerdas, masyhur dengan keilmuan, amalan, dan zuhudnya. 

Demikianlah –wahai saudariku Muslimah– mereka adalah contoh terbaik bagi kita dan telah terbukti bahwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya :
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Al Mujadilah : 11)

Semoga Allah memudahkan jalan bagi kita untuk menuntut ilmu dan memberikan ilmu yang bermanfaat. Aamiiin. 
Wallahu A’lam Bis Shawab.