18 Des 2013

Aku merindukanMu...




Aku termenung mengingat ENGKAU...
Dan tak bisa ku tahan jatuh air mataku...
Aku terbuai dengan keindahanMU...
Seakan hatiku ada bersamaMU...

Begitu besar perasaan hatiku...
Hingga tak mampu untuk aku ungkapkan...
Begitu dalam rasa rindu padaMU...
Aku menangis dengan KERINDUANKU...

Sedih hatiku ingin bertemu...
Sedihnhatiku mengingatMU...
Gelisah hidupku ingin memujaMU...
Gelisah hidupku karenaMU...

Aku merindukanMU ya ALLAH...
Hati menangis setiap waktu...
Aku merindukanMU ya ALLAH...
Seluruh hidupku memujaMU ya ALLAH...

Aku tak mampu untuk menggapaiMU...
Namun ku yakin ALLAH Engkau Maha Tahu...
Ya ALLAH dengarlah doaku...
Sepenuh hati AKU MERINDUKANMU...

Perkenankanlah Aku Mencintai-MU Semampuku...





Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustaz kuresapi…
Tentang cinta para nabi.
Tentang kasih para sahabat.
Tentang mahabbah para sufi.
Tentang kerinduan para syuhada.
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam.
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…


Tapi Ya Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari,bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang.
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencuba merangkak, menggapai permukaan bumi
dan menegakkan jiwaku kembali.
Menatap, memohon dan menghibaMu...

Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintaiMu, Semampuku

Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebolehku
Dengan segala kelemahanku.

Ya Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al Musthafa.
Kerana itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku.

Ya Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu Bakar,
yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separuh harta demi jihad.
Atau Uthman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dinMu.
Izinkan aku mencintaiMu, melalui seringgit-dua yang terulur
pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di tepi jambatan.
Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Ya Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan khusyuknya solat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh menujah di kakinya.
Kerana itu Ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu,
dalam solat yang cuba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Ya Rabbii,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib,
yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku.
Dalam satu dua sunnah nafilahMu.
Dalam desah nafas kepasrahan tidurku.

Yaa Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintaiMu,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Maha Rahiim,
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah,
yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DinMu.
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu.
Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu.
Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim,
Aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.
Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya.
Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku,
dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

(tertatih meniti cinta dalam 26 tahun waktu yang Kau berikan...)

Ajari Aku Lebih Bersabar Lagi Ya Allah..

Ajari Aku Bersabar Ya Allah..
Melihat kebahagiaan berpasang-pasang insan aku terenyuh.
Mendengar kabar gembira mereka hatiku bersorak.
Menyaksikan rencana baik mereka dalam merenda ikatan suci aku bertepuk tangan.
Sungguh bahagia menonton hari bersejarah sepasang insan-Mu…

Namun, tak urung hatiku ikut bimbang.
Satu tanya menyerbu, muncul dalam benak.
"Kapan aku mengalami hari bahagia itu?"

Aku ingin merasakan kebahagiaan mereka.
Aku ingin mengalami kebahagiaan seperti mereka.
Aku ingin tersenyum di samping seseorang yang akan menjadi pelindungku selama sisa usia.
Aku ingin menjalin ikatan suci itu.
Aku ingin bahagia bersama dirinya…

Dan dia, pernahkah dia memikirkan hal ini?
Yaa Rabb, pernahkah dia memikirkan tentang ini?
Atau dia sama bingungnya denganku?
Ku tahu akal manusia memang terbatas…

Tak bisa mengira dan menerka.
Tak mungkin menjangkau sesuatu yang hanya menjadi rahasia-Mu.
Hanya memungkinkan bagi kami untuk meminta petunjuk-Mu.
Aku yang di sini dan dia di sana, mudah saja bagi-Mu mempertautkan kami…

Maaf ya Allah, bukan aku mendesak-Mu untuk menyegerakan niat baik kami.
Bukan aku tak sabar ingin menjumpai hari bahagia itu.
Tentu saja aku paham, aku takkan bisa mempercepat sesuatu yang belum Engkau izinkan
Sebaliknya, aku takkan sanggup menunda-nunda sesuatu yang telah Engkau tetapkan…

Hanya saja kini aku tengah dibakar cemburu.
Cemburu menyaksikan mereka bersatu, sementara aku tetap sendiri dalam penantian.
Ya Allah, rasanya bercampur aduk.
Ada bahagia dan pedih bercampur baur…

Tapi aku tak ingin mengasihani diri.
Aku yakin bila masanya tiba, Engkau akan mempertemukan kami…

Ya Allah... didiklah kami agar menjadi pribadi yang lebih baik hingga kami memang pantas untuk disandingkan.
Ajarilahlah kami agar lebih siap menata hidup dalam ikatan suci-Mu.
Berikan rahmat-Mu pada kami agar kami bisa mengecap kebahagiaan yang Engkau anugerahkan.
Jadikan kami hamba-hamba yang bersabar dan bersyukur dalam menerima ketetapan-Mu.
Genggam hati kami agar tak pernah putus asa sedikit pun dalam menanti keputusan-Mu…

Aamiiin ya rabbal alamin….


17 Des 2013

Amalan yang paling dicintai oleh Allah.

Amalan yang paling dicintai oleh Allah.




عن ابن مسعود t قال: سألت رسول الله r أيُّ العمل أحبُّ إلى الله. قال: «الصلاة على وقتها». قلت: ثم أيٌّ. قال: «بر 
الوالدين». قلت: ثم أي. قال: «الجهاد في سبيل الله» [رواه البخاري ومسلم].



Dari Ibnu Mas'ud semoga Allah meridhainya, dia berkata: "Saya pernah bertanya kepada Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling di cintai oleh Allah? Maka beliau bersabda: "Shalat tepat waktu", kemudian apa lagi? Tanya saya. Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". Terus apa lagi? Tanya saya sekali lagi. Beliau berkata: "Jihad di jalan Allah".  HR Bukhari dan Muslim. 

Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan dalam hadits ini tentang amalan-amalan yang paling di cintai oleh Allah Azza wa jalla, dalam sabdanya beliau lebih mendahulukan shalat karena merupakan penghubung antara hamba dan Rabbnya, dan ke Islaman seseorang tidak akan sah tanpanya, dan juga, Allah tidak akan menerima amal apapun apabila tidak ada shalat, dan shalat adalah rukun yang paling penting setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Allah Ta'ala berfirman:

"Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".  (QS at-Taubah: 5).
       
Sesudah itu beliau menjadikan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah berbakti kepada kedua orang tua, yang mana amalan tersebut merupakan kewajiban yang harus di lakukan, dan kewajiban yang ada di antara halah dan mubah, bukan di antara haram dan makruh.
      
Dan hukuman bagi orang yang melalaikannya akan memperoleh hukuman yang besar, dan perbuatan yang paling jahat, karena begitu agungnya hak kedua orang tua, sehingga Allah menggandengkannya dengan tauhid dan beribadah semata hanya kepadaNya dengan hak mereka berdua. Dan Allah Ta'ala juga memperingatkan dari amalan yang paling ringan yang tidak boleh di lakukan kepada kedua orang tua, hal itu sebagaimana firmanNya:

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".  (QS al-Israa': 23-24).
       
Kemudian yang ketiga adalah berjihad dijalan Allah, jihad adalah perkara satu perkara yang disyari'atkan untuk bisa menegakkan agama, meninggikan kalimat Alllah serta menolong agamaNya. kalau seandainya tidak ada jihad maka tidak ada agama.  Adapun jihad itu mempunyai tiga tingkatan:

  • Yang pertama: Berjihad atas diri sendiri untuk menerima kalam Allah Azza wa jalla, dengan mengamalkannya, dan berjalan di atas petunjuk Rasulallah dan mengikuti beliau.
  • Kedua: Berjihad melawan setan yang ada pada dirinya sendiri, yaitu denganmengikis semua yang ada pada hatinya dari kerancuan dan keragu-raguan yang datang menghantam agama dan imannya.
  • Yang ketiga: Berjihad melawan musuh-musuh agama Allah Ta'ala dengan hati, lisan, tulisan, harta, dan pedang, sebagaimana firman Allah ta'ala:


"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah". (QS al Baqarah:193).

Dan juga firmanNya:

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong". (QS al-Hajj: 78). 
      
Dan masuk pula dalam masalah ini adalah berjihad kepada orang yang enggan beramar ma'ruf dan nahi munkar sesuai dengan ketiga tingkatan di atas

Muslimah yang senantiasa sabar

 Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Satu hal yang membedakan wanita Muslimah, ialah imannya yang mendalam kepada Alloh dan keyakinannya bahwa apapun peristiwa yang terjadi di alam ini dan apapun yang terjadi pada diri manusia adalah berkat qahda dan takdir Alloh. Dia yakin bahwa apa yang meninpa manusia bukan untuk membuatnya merasa bersalah, dan kesalahan yang dilakukannya bukan dimaksudkan untuk menimpakan musibah kepadanya. Kewajiban yang harus dilakukan manusia dalam kehidupan ini ialah berusaha meniti jalan kebaikan, mencari faktor-faktor yang bisa mendatangkan amal shalih, apakah itu dalam masalah agamanya maupun dunianya, sambil bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal kepada Alloh, pasrah kepada urusan-Nya, yakin bahwa dia senantiasa membutuhkan pertolongan, bimbingan dan ridha-Nya.
Perhatikan kisah Hajar saat ditinggalkan Ibrahim Alaihis Salam di samping Al Bait di Makkah Al-Mukarramah, di dekat tenda tak jauh dari Zamzam, sementara di Makkah saati itu belum ada segelintir manusia pun dan air pun tidak ada. Dia hanya ditemani bayunya yang masih menyusui, Ismail. Kisah ini menyajikan satu gambaran yang sangat mengagumkan di hadapan wanita muslimah, tentang dalamnya iman kepada Alloh dan tawakal serta kepasrahan yang utuh kepada-Nya. Dengan tegar, mantap dan penuh keyakinan, Hajar bertanya kepada Ibrahim, "Allohkah yang menyuruh engkau berbuat seperti ini wahai Ibrahim?"
"Benar," jawab Ibrahim.
"Kalau begitu Dia tidak akan menyia-nyiakan kami," jawab Hajar penuh keridhaan dan disertai keyakinan akan datannya kabar gembira dan perlindungan.
Sungguh merupakan tindakan yang sangat berat dan menggugah rasa, bagaimana seorang laki-laki harus meninggalkan istri dan anaknya yang masih menyusui di tengah hamparan padang pasir, tidak ada tetumbuhan, tidak ada air dan manusia. Setelah itu beliau langsung berbalik ke negeri Syam yang amat jauh. Dia hanya meninggalkan satu kantong berisi buah korma dan satu wadah dari kulit yang berisi air. Andaikan tidak ada iman yang mendalam dan memenuhi hati Hajar, andaikan tidak ada tawakal yang utuh kepada Alloh yang menghiasi perasaannya, tak bakalan dia sanggup menghadapi keadaannya saat itu dan tenti dia akan roboh tak berdaya sejak awal mula berada di sana. Yang seperti ini tidak terjadi pada diri wanita yang secara abadi selalu diingat orang-orang yang menunaikan haji di Baitullah Al-Haram dan melaksanakan umrah di sana. Mereka mengenangnya menjelang malam dan di ujung siang, yaitu saat mereka menciduk dari air Zamzam yang suci, saat mereka melakukan sa'i dari Shafa ke Marwah, sebagaimana dia berlari-lari kecil pada hari yang sangat mendebarkan itu.
Keyakinan iman ini menghasilkan buah-buah yang sangat mengagumkan dalam kehidupan orang-orang Muslim dan Muslimah, yang menggugah perasaan dan membangkitkan sanubari, bahwa Alloh menyaksikan dan mengetahui semua rahasia, bahwa Dia senantiasa bersama manusia, dimana pun dia berada. Tidak ada bukti yang lebih akurat tentang upaya membangkitkan perasaan dan mendatangkan rasa takut kepada Alloh saat ramai dan saat sepi, selain dari kisah seorang gadis muslimah yang menggambarkan sifat kesucian diri dan adanya pengawasan terdadap dirinya, yang dinukil Ibnu Jauzy dalam bukunya, Ahkamum Nisa.
Dia menuturkan, dari Abdullah bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkada, "Saat aku bersama Umar bin Al Khathab Radhiyallahu Anhu yang sedang melakukan inspeksi di Madinah, tiba-tiba dia merasa kelelahan, Maka pada tengah malam itu dia bersandari di samping sebuah dinding. Tiba-tiba terdengar seorang wanita berkata kepada putrinya, "Wahai putriku, ambilah susu itu dan campurilah dengan air biasa!"
Putrinya menjawab, "Wahai ibu, apakah itu tidak tahu keputusan yang diambil Amirul Mukminin pada hari ini?"
"Apa memang keputusan yang diambilnya wahai putriku?" tanya sang ibut.
"Dia memerintahkan seorang untuk mengumumkan, bahwa susu tidak boleh dicampur dengan air," jawab putrinya.
"Wahai putriku, ambil saja susu itu dan campuri ia dengan air. Toh saat ini kamu berada di suatu tempat yang tidak bisa dilihat Umar," kata sang ibu.
Putrinya berkata, "Aku sama sekali tidak akan menaatinya saat ramai dan mendurhakainya saat sepi."
Umar bisa mendengar semua itu. Setelah kembali ke rumah, dia berkata, "Wahai Aslam, datangi lagi rumah itu dan selidikilah siapa wanita yang menjawab seperti itu dan siapa pula wanita tua lawan bicaranya. Adalah mereka mempunyai suami?"
Aslam menuturkan, "Lalu kudatangi ruma itu. Ternyata wanita yang memberikan jawaban seperti di atas masih gadis, dan wanita yang berbicara dengannya adalah ibunya, yang di rumah itu tidak ada seorang laki-laki pun. Kudatangi Umar dan kukabarkan hal ini kepadanya. Lalu dia memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka. Dia berkata, "Apakah diantara kalian ada yang membutuhkan seorang wanita untuk bisa kunikahkan dengannya? Andaikan ayah kalian masih berminat kepada seorang wanita, tentu salah seoranng di antara kalian tidak bisa mendahuluinya untuk mendapatkan anak gadis ini."
Abdullah berkata, "Aku sudah mempunyai seorang istri."
Abdurrahman berkata, "Aku pun begitu."
Ashim berkata, "Kalau aku belum punya istri. Maka nikahkanlah aku dengannya!"

Umar mengirim utusan kepada gadis itu, lalu menikahkannya dengan Ashim. Dari wanita ini lair seorang anak putri, dan dari anak putri ini lahir Umar bin Abdul Aziz.
Ini merupakan kesadaran sanubari yang ditanamkan Islam ke dalam jiwa gadis Muslimah tersebut. Sungguh ini merupakan gambaran ketakwaan yang lurus dan lempang, dalam keadaan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, saat ramai atau sepi, karena keyakinan bahwa Alloh senantiasa bersama dia, bisa mendengar dan melihat. Ini adalah iman yang hakiki, yang kemudian membuahkan hasil yang menggembirakan bagi pelakunya. Di antara pahala ALloh yang langsung dirasakan wanita itu di dunia, Dia menganugerahinya perkawinan yang penuh berkah, sehingga dari keturunannya lahir Al Khulafaur Rasyidun yang kelima, Umar bin Abdul Aziz.
Aqidah wanita muslimah yang lurus, bersih dan suci tidak akan terlumuri noda kebodohan, kebeningannya tidak akan menjaid keruh oleh tipuan khurafat dan keelokannya, tidak akan padam karena bayang-bayang keraguan. Ini adalah aqidah yang ditegakan di atas iman kepada Alloh Yang Maha Esa, Yang Maha TInggi dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, yang di Tangan Nya terletak semua urusan dan kepada Nya pula kembalinya segala urusan.
Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Katakanlah, 'Siapakah yang di tangan Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab) Nya jika kalian mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Alloh'. Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?" (Al Mukminun : 88-89)