kisah kisah


Kisah Indah Malam Pertama Seorang Pengantin Muslimah

17 Jun
Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Namun tak lama berselang dia mendengar suara azan Isya berkumandang dan dia sadar kalau wudhunya telah batal. Dia berkata pada ibunya:
“Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”
Ibunya terkejut dengan berkata: “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”
Lalu ibunya menambahkan: “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu”
Sang anak membalas: “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta!”
Ibunya pun berkata: “Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentangmu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu”
Sang anak membalas dengan tersenyum: “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik di mata-Nya”.
Setelah mengatakan itu, dia tetap berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu. Kemudian ia memulai shalatnya. Dan pada saat bersujud, dia tidak menyadari bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya. Pengantin wanita itu pun wafat dengan cara yang indah, yaitu bersujud di hadapan Pencipta-Nya. Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud, sehingga menjadi akhir kehidupan yang luar biasa bagi seorang Muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!
Subhanallah… Kisah di atas menunjukkan bahwa di dunia ini masih tersisa kebaikan, kebenaran dan kemuliaan. Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir, Arab Saudi. Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah SWT dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama dan utama. Sehingga menjadi sebuah fenomena yang luarbiasa masih terjadi di tengah pola kehidupan duniawi yang terus di agungkan oleh sebagian besar manusia. Sehingga patut menjadi tolak ukur dan penyemangat diri – terutama kaum Muslimah – bahwa mengikuti perintah-Nya adalah yang terbaik sebagai manusia dan tetap indah.
Tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak takut kepada Allah SWT. Dan ketakutan yang telah di contohkan oleh pengantin wanita di atas adalah kebenaran. Inilah sikap yang akan menyelamatkan seseorang di akherat kelak. Di waktu yang penuh sesak dan tiada kesempatan untuk memperbaikinya. Sehingga mulai sekaranglah wahai saudariku tercinta engkau berbenah diri, merubah kebiasaan dan pola kehidupan yang terus menduniawi ini. Pikirkan tentang kehidupan akheratmu nanti, tentang bagaimana bisa engkau memperoleh kebaikan sementara engkau tidak berbuat baik yang sesuai ketetapan-Nya.
Benar adanya, bahwa sikap seperti pengantin wanita di atas itu sulit dan tidak sedikit yang mengabaikannya, tetapi yakinlah masih ada di antara kita yang mau melakukannya. Mereka memilih bahwa kehidupan ini harus di tempatkan pada posisi yang tepat. Pada keadaan bahwa ia hanyalah seorang hamba yang harus selalu patuh hanya kepada Tuhannya. Apapun resikonya ia tidak peduli, karena yang diinginkannya adalah mengabdi dan mencintai Tuhannya saja. Sehingga berakhirlah kehidupannya dalam keindahan. Sungguh indah dan mulia.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah” (HR. Muslim)
Ya. Siapapun dari Muslimah yang menginginkan perjalanan hidupnya di akherat menjadi indah dan mudah, maka ia harus mencontoh sikap pengantin wanita di atas, karena demikianlah yang di lakukan oleh para wanita shalihah. Kaum Muslimah yang menjadi idaman bagi sosok yang shalih karena telah mengikuti jejak para Nabi. Hamba Allah yang kelak akan berdiri di belakang Fathimah Az-Zahra RA, karena menjadi penghuni Syurga selamanya.


Kisah Cinta Muslim Sejati

hayatilah...mmg sebuah kisah cinta yg menarik untuk kita baca...



Ini kisah mereka.. kisah cinta yang insyaAllah membawa ke syurga.   Kata mak..   Mak abah berjumpa di program. (Mungkin tamrin sebenarnya) Program akhir tahun siswa siswi universiti.   Kata mak, ketika itu mak sedang menuruni tangga, dan terpandang abah. ...Itulah kali pertama mereka berjumpa mungkin. Cinta pandang pertama.   Mak muslimah yang solehah, beriman. Bertudung labuh dan berjubah lembut. Mak mempunyai wajah yang indah subhanAllah. Cantik dan menyenangkan. Mak pernah dipinang, malah beberapa kali. Alhamdulillah, mak senantiasa bergantung pada Allah. Setiap pinangan, mak akan istikharah. Pernah hadir sebuah pinangan untuk mak, yang mak istikharah ke atasnya. Dan kata mak..   "Mak mimpi mak pakai pakaian pengantin.. indah.. tapi mak pelik.. kenapa baju pengantin mak tak habis dijahit.. tak lengkap.."   Dan pinangan abah datang. Hadir, Seakan angin yang menyampaikan sinar bahagia yang menenangkan.. dan pada Allah, mak bergantung harap. Mak sekali lagi istikharah.   Dan Allah mengurniakan. Juga tanda dalam mimpi.   Mak lihat..   "Mak sembahyang,. mak solat.. dan abah.. abah yang menjadi imam.. abah yang menjadi pemimpin.."   Cerita mak sambil tersenyum..   Dengan redha, mak menerima, dengan cita-cita menjadi isteri yang solehah. Alhamdulillah.   Aku pernah melihat surat mak pada abah semasa pertunangan. Surat cinta dahulu kala. Aku tersenyum. Hehe. Membahagiakan. Aku pernah melihat buku haraki yang dihadiahkan mak pada abah, dengan kata-kata semangat seorang muslimah kepada mujahid. Agar terus tetap dalam perjuangan. Oh, bahagianya..   Mak selalu cerita tentang kenangan manisnya..   Dulu, ketika mak mengidam mengandungkan anak sulungnya, iaitu aku, mak pernah teringin untuk makan buah, dan abah belikan 2 bekas besar khas untuk mak. Ketika mak dalam pantang dan terasa meikmati keindahan minuman, abah hadir dengan satu jug besar. Cerita mak sambil tersenyum.   Dan begitulah abah, terlalu baik. Amat baik. Dan hidup mak senantiasa bersama abah.   Mak kadang-kadang sakit. Pernah mak pengsan dua kali. Pernah mak memasuki wad. Pernah kami sekeluarga mengalami detik-detik yang amat mensyahdukan. Abah pangku mak, dan abah menangis. Aku sebak melihat abah menangis. Dan aku tak pernah melihat abah menangis seperti itu sebelum ini. Dan abah, benar-benar menjaga mak dengan sepenuh jiwa dan raga.   Cerita mak..   Ketika sama-sama menunaikan haji. Ketika semua jemaah sudah pulang, abah masih belum pulang walaupun sudah 2 jam berlalu. Mak risau.   Dan kelihatan abah..   "Abang ke mana? Risaunya ani.."   "Abang buat tawaf, dua kali.. satu untuk abang, dan satu untuk ani.." kata abah sambil tersenyum.   Mak terharu, biasanya tawaf setengah jam. Tapi disebabkan ramai orang, jadi sejam. Dan abah sanggup buat untuk mak.   Abah dan mak selalu berlumba untuk beribadah..   "Abang buat solat sunat tasbih lagi banyak daripada ani.."   "Isk, ani tak boleh sembahyang boleh lah abang potong.."   Dan abah hanya ketawa.   Dalam sunat tasbih, dalam solat tahajjud, dan pelbagai perkara. Di rumah ada sebuah buku. Amalan harian di bulan ramadhan, amalan setiap hari. Dan abah dan mak selalu berebut untuk buku tersebut. Selalu bertukar tangan.   Pernah mak tanya,   "Abang suka ani marah-marah, tapi sihat ke.. atau ani diam, tapi ani sakit.."   "Tentulah abang suka ani sihat, walaupun marah-marah.." jawab abah..   Dan bila mak teringinkan sesuatu, abah akan usaha membahagiakan mak. Abah seorang tukang masak yang baik. Amat baik.   Dan abah selalu membanggakan mak.   Ke mana mak pergi, mak bangga bila orang berkata. Dan selalu berkata.   "Beruntung Ani dapat suami macam tu.."   Mak gembira.   Kadang-kadang mak pening kepala. Abah akan belai kepala mak. Bacakan ayat al-quran dengan penuh kasih sayang. Dan itu amat menenangkan mak..   Pernah mak berkata..   "Abah terlalu baik, amat baik.. Sehinggakan mak penah terfikir, jika abah mengimpikan untuk berkahwin baru. Mak akan izinkan, mak akan benarkan.. Abah terlalu baik, dan mak senantiasa inginkan kebahagiaan abah.."   Dan abah selalu membanggakan mak, hingga saat terakhir. Hingga abah kini,   Sudah tiada.   Pergi untuk bertemu cinta agungnya..   Abah membanggakan mak dengan senyuman manisnya walaupun abah sudah tiada. Senyuman yang meredakan tangisan kami. Abah membanggakan mak dengan pujian sahabat abah kepada jenazah.   Mak sedih, terlalu sedih. Mak peluk dan belai abah.   Ketika tangisan mak mereda. Mak berkata..   "Senyuman abah sinis, seperti senyumannya selalu untuk mengusik mak.."   Mak seakan tak lalu makan. Dan aku cuba menyuap. Mak menahan sambil menangis.   "Jangan suap mak, mak akan teringatkan abah.."   Mak tak boleh mendengar deringan telefon.   "Mak berharap sangat yang telefon tu abah.."   Mak terus menangis.. Sebentar mak tersenyum.   "Abah terlalu baik, sehinggakan nak mencari keburukan, susah sangat.. kecuali satu.. suara abah yang tak sedap.. Itupun mak rindukan sangat suara tu..." ujar mak..   Menarik nafas. Dalam. Amat dalam.   "Nadwan, mak perlu kuat kan? Sebab abah dah pergi dengan baik sangat. Jadi mak kena gembira. Mak kena gembira bila abah gembira. Abah, dah bahagia sangat hingga senyum begitu sekali. Mak juga nak jadi macam abah. Mesti abah dan dapat bidadari yang cantik-cantik kan?Agak-agak abah ingatkan mak lagi tak?.. "   Mak terus tersenyum.   "Mak nak buat ibadah banyak-banyak.. mak nak jadi macam abah.. mak nak masuk syurga sama-sama... sampai nanti.. insyaAllah.. mak nak jadi ketua bidadari untuk abah di syurga nanti..."   Dan hati seorang isteri terus tabah. Mendamba penuh harapan dalam tangisan penuh kerinduan...



Mudah-mudahan kita juga boleh menjadi macam mereka...

.

Karyati, Kisah Seorang Pemulung Naik Haji





Karyati (inet)Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Setidaknya inilah yang diyakini dan diamalkan oleh Karyati, seorang pemulung asal Desa Pondok Wuluh Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Meski secara logika pekerjaan yang dijalaninya merupakan pekerjaan rendahan, tetapi nenek yang berusia sekitar 69 tahun tersebut ternyata mampu mencapai cita-citanya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima naik haji ke tanah suci.
Namun demi bisa mencapai keinginannya tersebut, Karyati telah bekerja sangat keras. Bahkan selama 20 tahun lamanya, wanita paruh baya tersebut menyisihkan sebagian jerih payahnya sebagai pengais barang bekas plastik dan kertas.
Janda renta yang mempunyai 4 (empat) orang anak ini berkeyakinan bahwa suatu saat nanti dirinya bakal bisa naik haji ke tanah suci layaknya orang-orang lain yang berduit. Atas keyakinan tersebut, dirinya selalu menyisihkan hasil dari memulung untuk ditabung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Memang untuk mewujudkan impian naik haji ini penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 20 tahun lamanya. Tetapi saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Karyati.
Menurut Karyati, cita-cita naik haji itu sudah lama terpendam semenjak 2002 lalu. Saat itu dirinya mengaku masih punya toko kelontong di desanya. Masa-masa sulit dilewatinya saat usaha kelontongnya bangkrut di pada tahun 2005. Namun untuk menyambung hidup, Karyati kemudian menjadi seorang pemulung. Meski pekerjaannya terbilang rendah, tetapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa meraih cita-citanya untuk menunaikan ibadah haji.
Sekitar tahun 2004, Karyati mulai mendaftarkan diri sebagai haji Kabupaten Probolinggo. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi pemulung sudah mencapai sekitar Rp. 20 juta. Selain dari hasil memulung, uang tersebut didapat dari beberapa sukarelawan.
“Pernah suatu ketika, tepatnya pada tahun 2010 saya pernah ditipu oleh seseorang yang mencoba menawarkan jasa. Namun tanpa disadari saya tertipu sebesar Rp. 10 juta dan uang tersebut tidak dikembalikan meskipun beberapa waktu kemudian akhirnya ditangkap oleh polisi,” jelasnya.
Dan selama mengejar impiannya, Karyati tidak mau kumpul atau tidur di rumah anak-anaknya. Bukannya tidak sayang kepada anak dan cucunya, namun nenek bercucu 12 orang ini tidak mau mengganggu atau menjadi beban hidup anak-anaknya. Dirinya lebih memilih tidur di toko usang miliknya. Terkadang pula tidur di masjid desanya. “Kalau pas bersih-bersih masjid ada orang kasih rejeki, saya tabung,” katanya.
Namun dengan tekad yang kuat, semua kejadian tersebut tidak mematahkan semangat Karyati untuk mewujudkan cita-citanya untuk dapat berangkat haji. “Saya hanya bisa pasrah namun saya tidak mau putus asa untuk tetap bisa berangkat haji ke tanah suci,” terangnya.
Bermodalkan sebuah sepeda buntut, Karyati keliling dari kampung ke kampung mengumpulkan barang bekas. Sebagian hasilnya digunakan untuk makan dan sebagian lain ditabung untuk bisa naik haji. “Dalam sehari, upah memungut barang bekas sebesar Rp. 10 ribu. Yang Rp. 5 ribu ditabung dan yang Rp. 5 ribu untuk makan,” akunya.
Usaha yang dilakukan Karyati tidak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Karyati berangkat haji di tahun 2013 ini. Karyati direncanakan akan berangkat ke tanah suci pada tanggal 29 September 2013 melalui kloter 43 Embarkasi Juanda, Surabaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar