Renungan





Sahabatku,,,
Aku yg bodoh ini telah berkali-kali bgtu lancang menuliskan berbagai nasehat kepadamu.
Demi ALLAH,Demi Rasulullah,aku tak pernah bermaksud menggurui atau ingin mendapat pujian,akupun hanya manusia dhaif yg merasa pilu dan sedih melihat keadaan disekelilingku,bahkan mungkin dengan keadaanku sendiri.
Sahabatku,,,
Penaku kdg begitu latah dan kering mnuliskannya,saat hatiku dipenuhi dengan berbagai gejolak tanya ttg kehidupan,,
Hhmmm,,ya,,Maha mengetahu,,ALLAH Ta'ala,,selalu mngetahui kegundahanku,hingga mnggerakanku tuk mengambil pena usang dan lembar putih yg menumpuk di'tumpukkan rak bukuku lalu menuliskan apa yg aku pkirkan..
Sahabatku,,,
Tahukah kau,ketika aku tersenyum malu,,saat aku mulai menulis bberapa kata d'atas lembaran putih ini,,,yaaahh,,tersnyum,,aku perlu beberapa waktu berfikir utk merangkai kata,krn aku bkn pujangga sehingga tak jarang aku hempaskan lembaran putih ini ke dalam keranjang sampah smpai akhirnya aku berhasil merampungkannya..
Sahabatku,,,
Aku ingin tulisan yg aku tlis bkn hnya mnjdi seonggok lembaran tak berguna yg tlh kau baca kmudian kau acuhkan bgtu saja atau bhkan mngkin kau lempar k'dalam keranjang sampah,,bkn itu yg aku harap,namun aku berharap kau mau menyimpannya,,yaah,,minimal kau lipat rapi dalam sebuah kotak tempat kau biasa menyimpan lembaran" lainnya dari handai taulan atau kerabat dan teman kerjamu.
Sahabatku,,
Rasanya aku sllu ingn berbagi denganmu ttg apa yang aku rasa dan aku alami,,spt yg agama kita ajarkan,,yaa,,islam mngajarkan qt tuk sling berbagi,,walau hnya dg tulisan,,nmun btpa indahnya berbagi itu..Subhanallah..
Sahabat,,
Jika kau mmpunyai rasa,,mmiliki cerita yg ingin kau bagi dan kau gores dengan penamu,maka goreskanlah,bagikanlah,tuliskanlah,,jangan ragu dan jangan pernah takut kata"mu tak indah dan tak sesempurna kata pujangga yg mampu menyentuh jiwa dan melelehkan rasa yang membaca,bahwa yang terpenting adalah apa yang ingin kau sampaikan dan kau bagi sahabatku...
Jadi jangan prnh tkt tuk berkarya,,membuat dunia lebih indah dan berwarna,,Barakallah..
Salam Santun dariku yang jauh disini
Menanti selalu uluran pendapatmu..
Hamba ALLAH yang fakir

Renungan Dalam Canda


Ilustrasi. (inet)
Malam hari selepas Isya merupakan waktu khusus bagi Ihsan dan Amir untuk bercengkerama dengan Al-Quran. Yup, sepekan lima kali mereka berdua akan belajar mengaji di rumah Ustadz Salman bersama beberapa pemuda desa lainnya. Meskipun sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Ihsan dan Amir merasa masih harus banyak belajar tentang Al-Quran.
Demi mencairkan suasana, Amir membuka percakapan dengan Ihsan. Amir yang ceplas-ceplos seringkali memberikan pertanyaan yang terdengar nyeleneh, namun memiliki jawaban sarat makna yang terkandung di dalamnya.
“Kamu tahu nggak bedanya pemuda zaman dahulu dengan zaman sekarang?”
Nggak tahu. Memang bedanya apa?” Ihsan balik bertanya kepada Amir.
“Kalau zaman dahulu, berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia. Kalau zaman sekarang, berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kubentuk boyband,” jawab Amir dengan senyum khasnya sehingga kedua lesung pipitnya terlihat.
“Kamu bisa aja, Mir.”
Di tengah perjalanan, mereka berdua bertemu dengan Romi. Langsung terlintas dalam benak Ihsan untuk mengajak Romi yang kebetulan belum pernah ikutan mengaji. Romi satu tipe dengan Amir. Jadi, Ihsan sudah biasa menghadapi tipe orang yang seperti ini.
Assalamu’alaikum.” Ihsan mengucap salam dengan penuh santun.
Wa’alaikumsalam. Eh, Ihsan dan Amir. Kalian berdua pada mau ke mana?” tanya Romi.
“Mau belajar ngaji Al-Quran di rumah Ustadz Salman,” jawab Amir.
“Aku harus bilang ‘WOW’ gitu?” ujar Romi setengah bercanda.
“Eh, belajarnya itu dari ALIF, BA, TA, TSA dulu. Kalau huruf WAW masih jauh. Makanya, kamu ikutan ngaji supaya bisa cepat sampai WAW,” sergah Amir.
“Jadi, kamu mau ikut nggak? Teman-teman yang lain banyak yang ikutan kok. Kalau ada kamu, pasti kita lebih semangat belajar ngajinya,” ajak Ihsan lembut seraya menepuk-nepuk pundak Romi.
“Kamu mau tahu aja atau mau tahu banget?” celetuk Romi.
“Kamu mau ngeliatin di pintu surga aja atau mau masuk surga banget?” balas Amir.
Romi terdiam sejenak setelah mendengar perkataan terakhir dari Amir. Tidak berapa lama kemudian, sebuah keajaiban pun terjadi. Tanpa banyak basa-basi lagi, Romi mengikuti langkah kaki Ihsan dan Amir menuju rumah Ustadz Salman.
***
Seperti biasanya Ustadz Salman bercerita terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan belajar mengaji. Kali ini beliau bercerita tentang Captain Tsubasa dan Kancil Mencuri Mentimun.
“Para pemuda Jepang itu bisa sukses seperti sekarang karena dahulu orangtua membiarkan mereka menonton film Captain Tsubasa. Memang film tersebut penuh dengan imajinasi dan khayalan tingkat tinggi. Namun, bagi mereka, Tsubasa adalah sosok seorang anak yang memiliki mental baja dan kegigihan dalam meraih mimpi dan cita-citanya. Itulah yang menjadi salah satu pelecut semangat sehingga mereka dapat menjadikan Jepang sebagai negara besar dan maju seperti sekarang ini. Sedangkan pemuda Indonesia, dahulu itu orangtua mereka hanya mempunyai satu dongeng favorit, yaitu Kancil Mencuri Mentimun. Tak heran jika sekarang ini korupsi merajalela, mulai dari korupsi waktu sampai dengan korupsi uang rakyat.”
Ihsan paham benar bahwa pemuda adalah sosok yang enerjik, penuh dengan semangat, cepat bereaksi, bergejolak ketika ada tantangan, dan serba ingin tahu. Ia pernah membaca sebuah pepatah Arab yang mengatakan bahwa, “Asy syabab al yaum huwa al ghad”. Artinya adalah pemuda hari ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Tentunya hal ini merupakan bentuk harapan terhadap peran pemuda, termasuk Ihsan, Amir, dan Romi, dalam membangun peradaban manusia menuju peradaban yang lebih maju lagi.
Jika suatu bangsa memiliki pemuda yang cerdas dan tangguh, maka akan majulah bangsa tersebut. Begitupun sebaliknya, jika suatu bangsa memiliki pemuda yang rusak, maka tunggulah kehancurannya. Mengapa hal tersebut bisa saling berkaitan? Karena di tangan para pemuda, estafet kepemimpinan berikutnya akan dilimpahkan. Jadi, peran pemuda tidak akan mungkin lepas dalam proses membangun peradaban suatu bangsa. Hal ini tercermin dari perjalanan sejarah dari zaman para Nabi sampai zaman modern seperti sekarang.
“Padahal Rasulullah SAW telah mengajarkan bagaimana cara mendidik pemuda. Didikan dan gemblengan dari beliau telah mampu memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap kemajuan peradaban Islam. Dalam usia yang sangat muda, terbentuklah karakter pemuda-pemuda luar biasa dalam diri Umar bin Khattab (27 tahun), Zaid bin Haritsah (20 tahun), Sa’ad bin Abi Waqash (17 tahun), bahkan Ali bin Abi Thalib (8 tahun). Luar biasa sekali bukan!” jelas Ustadz Salman dengan nada berapi-api.
“Betul kata, ustadz. Ditambah lagi kisah heroik para pemuda dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seperti Pattimura, Jenderal Sudirman, Soekarno-Hatta, Budi Utomo, dan masih banyak lagi,” sambung Amir.
“Kalau kita bandingkan dengan pemuda zaman sekarang. Tentunya kita akan menemukan sebuah pemandangan ironis di mana pemuda yang seharusnya menjadi tumpuan masa depan kehidupan dan pengusung harapan, pada kenyataannya mayoritas generasi muda malah terperosok dalam lumpur budaya yang menyesatkan. Ironis bukan?” ujar Ihsan panjang lebar sembari melirik ke arah Romi.
CiyusMiapah?” timpal Romi.
“Yah, ini anak satu. Baru juga diceramahin panjang lebar. Eh, udah kumat lagi,” celetuk Amir.
Ihsan pun hanya bisa tersenyum kecil. Entah tersenyum karena melihat kelakuan teman-temannya atau karena melihat kenyataan yang terjadi pada pemuda zaman sekarang.
Akhirnya Ustadz Salman memulai kegiatan belajar mengaji Al-Quran. Ihsan pun berdoa dalam hati supaya para pemuda Islam dapat kembali kepada Al-Quran dan menjadikannya sebagai solusi.

Bismillahirrahmaanirahiim...

Ukhti . . . ~
Kecantikan itu adalah Ujian.
Sayang sekali , kenapa banyak wanita
Cantik yang Mengumbar Auratnya...??
Apa yang mereka Ingin Banggakan
dari Kecantikannya..

Andai saja Mereka Menyadari bahwa
Wajah Cantiknya itu Tak Abadi , akan
Menua dan Keriput...

Ingatlah, kita ini akan Mati dan yang Allah
Lihat bukanlah Kecantikanmu, melainkan
Hati dan Amal Perbuatanmu..

Duhai Ukhti ,
Satu Kecantikan yang dilihat dengan Penuh Syahwat, akan Menimbulkan Satu Dosa untukmu...
Apakah Kau tak pernah menyadari itu. . . ??
Dan Apakah kau Tak pernah Menghitung Dosa yang semakin Menumpuk..
Aku yakin Kau pasti tak pernah menghitungnya..

Sudah berapa banyak orang yang
Memandangmu dengan Syahwatnya. . .
Mungkin, karena kau lebih Senang
di Puja dan di Puji bak Bidadari yang
Turun dari kayangan..

Apakah engkau Lupa Duhai Ukhti,
Kecantikan itu adalah Milik_Nya, suatu
saat nanti akan di ambil_Nya kembali...
Dan engkau pun akan di pertanyakan untuk Apa kecantikanmu di pergunakan...?!

Seandainya engkau menutup Auratmu dan Menjaga Kecantikanmu hanya untuk Orang yang Halal kelak, itu lebih Berarti dan Berharga untuk dirimu..

Namun Aku Heran, walaupun Kau sudah Menutupi Auratmu, mengapa masih saja Kau bangga dengan Kecantikanmu ??

Kau Pasang photo-photo yang Mengiurkan,
Berbusana Muslim tetapi tidak mengetahui Hakikat Malu kepada Allah...

Aku akui kau memang Bidadari Dunia,
Tapi kau belum tentu menjadi Bidadari Akhirat..
Jika Akhlaq dan Hatimu tidak Mencerminkan Kecantikanmu. . .

Dan Terkadang pun aku menjadi Heran
di Buatmu, engkau begitu Cantik, tapi
mengapakau tidak mampu menjaga Lisanmu. . . ?!

Apakah Kau tak pernah Menyadari, bahwa banyak Penghuni Neraka di sebabkan oleh Lisan yang tak Terjaga...

Duhai Ukhti, ketahuilah lebih dari setengah Penghuni neraka adalah
Kaum Hawa. . .

Mengapa ??

Karena Mereka tak Mampu menjaga
Aurat dan Lisannya. . .

Aku Tahu, tak mudah menjadi pribadi yang Baik di mata Allah, tapi setidaknya engkau mau mencoba dan berusaha merubah apa yang buruk menjadi suatu kebaikan untukmu...

Aku Tahu, kau memang Lemah, tetapi kau tak pernah menyadari bahwa kau Lebih kuat dari apapun, Seandainya di hatimu ada Secuil Keimanan dan Rasa Malu Kepada_Nya. . .

Duhai Ukhti, Malu itu adalah Perhiasanmu,
Dan itu yang Membuatmu Cantik, bukan Parasmu dan Tubuhmu yang Elok...

Dan Pakaian Terindah Untukmu adalah Taqwa, bukan baju yang Glamour atau Seksi dan sebagainya...

Duhai Ukhti, Belajarlah dari Alam, Belajarlah dari Kehidupan..Karna Tidak semuanya akan selalu
Indah di pandang mata. . .

Karna Allah mampu merubahnya hanya dengan mengatakan : " Kun faa yaa Kun".

Belajarlah Ilmu agama untuk bekal Hidupmu di Dunia dan Akhirat..

Jadilah Wanita yang Sholehah untuk Pribadi dan Keluargamu...

Karna tiap Jiwa akan mempertanggung jawabkan amalannya masing-masing. . .

Jadilah Wanita yang
Seindah Bunga Akhir Zaman,
Secantik Permata Berlian,
Seanggun Bidadari Syurga. . .Aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar